Rabu, 13 November 2013

STRATEGI PEMBELAJARAN PKLH

STRATEGI PEMBELAJARAN PKLH


 



STRATEGI DAN MODEL PEMBELAJARAN (MENGAJARKAN KONTEN DAN KETERAMPILAN BERPIKIR)
Edisi keenam. 
(Original: Strategy and Models for Teaching Content and Thinking Skills. Six Edition.
Paul Eggen dan Don Kauchak/ Terjemahan oleh: Satrio Wahono.
Penerbit : Indeks.
 Buku ini pertama kali diterbitkan dalam Bahasa Inggri di Amerika Serikat tahun 1996,  Bahasa Indonesia cetakan pertama tahun 2012.
Cover: kombinasi warna hitam bagian atas, ungu muda bagian bawah dengan gambar puzzle bentuk lingkaran.
Harga: Rp. 125.000,-

Tentang pengarang:
PAUL EGGEN
Paul telah bergiat dalam bidang pendidikan tinggi selama 38 tahun. Dia adalah konsultan bagi sekolah negeri dan sekolah tinggi di daerah layanan universitasnya, memberikan dukungan bagi para guru dalam 12 negara bagian berbeda, Bekerja sama dengan guru-guru di sekolah intemasional di 23 negara, termasuk Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah, Amerika Tengah, Amerika selatan, dan Eropa. Dia telah menerbitkan sejumlah artikel di jurnal-jurnal ilmiah, muncul secara rutin di konferensi-konferensi nasional dan internaasional
DON KAUCHAK
Don telah mengajar dan bekerja di sekolah dan pendidikan tinggi di sembilan negara bagian berbeda, selama 35 tahun. Dia telah menulis artikel di sejumlah jurnal akademis, termasuk Journal of Educational Research, Journal of Teacher Education, Teaching and Teacher Education, Phi Delta Kappan, dan Educational Leadership. Selain buku ini, dia adalah rekan-pengarang atau rekan-penyunting enam buku lain tentang pendidikan. Dia juga seorang peneliti utama bagi dana hibah pemerintah dan negara bagian, yang memeriksa praktik perkembangan dan evaluasi guru. Dia juga hadir secara rutin di American Educational Research Association. Ia saat ini menjadi tutor sukarelawan bagi anak-anak kelas 1, 2, dan 3 di satu sekolah dasar setempat.

I.    Rasional

Perubahan kurikulum Indonesia dari Kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 2013 adalah momentum yang tepat yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional untuk menjawab tuntutan perkembangan globalisasi. Perkembangan IPTEK yang semakin pesat menyebabkan kta harus memiliki persiapan yang matang untuk generasi muda dimasa yang akan datang.
Inti dari Kurikulum 2013, adalah ada pada upaya penyederhanaan, dan tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan.
Titik beratnya, bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Adapun obyek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya.
Melalui pendekatan itu diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik.
Implementasi Kurikulum 2013 menuntut peran guru yang semakin besar agar pembelajaran di ruang kelas dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Siswa bukan lagi diberikan informasi, tetapi siswa sendirilah  yang harus mengkontruksi pemahaman dan pengetahuan mereka. Untuk dapat mencapai hal tersebut, maka siswa harus diberi pengalaman belajar yang menarik sehingga siswa dari pengalamannya dapat menyusun informasi-informasi yang diberikan untuk dibuat menjadi pengetahuan dalam benaknya dan mampu menyusun kalimat-kalimat mereka sendiri dengan benar.
Jadi yang perlu serius harus dikembangkan sekarang ini adalah mengubah paradigm guru untuk mengadopsi model pembelajaran menuju kearah penguatan sikap, ketrapilan dan pengetahuan yang terintegrasi dengan Scientific Approach terhadap mata pelajaran masing.-masing dengan mulai melakukan perubahan pada Silabus dan RPP yang ada di KTSP serta mengimplementasikan dalam pembelajaran di kelas.
Ketika pembelajaran di kelas terlaksana, maka dalam pengembangan pengalaman belajar, guru bukanlah sebagai satu-satunya sumber belajar yang bertugas menuangkan materi pelajaran kepada siswa. Akan tetapi guru berperanan guru sebagai fasilitator. Oleh karena itu pengembangan belajar menuntut guru untuk kreatif dan inovatif sehingga mampu menyesuaikan kegiatan mengajarnya dengan gaya dan karakter belajar siswa..
Guru sebagai fasilitator mempunyai kewajiban untuk menciptakan iklim ruang belajar yang menyenangkan, mengimplementasikan tujuan-tujuan pelajaran yang bermakna bagi siswa, membantu membuka wawasan, pemikiran siswa , mengorganisasi dan mempermudah serta memperluas sumber-sumber belajar.
Peranan guru sebagai fasilitator, mengandung implikasi bagi guru dalam peranan-peranan yang lebih spesifik diantaranya sebagai pemimpin dalam proses pembentukan kelompok agar tidak homogen tetapi kelompok lebih heterogen, memberikan bimbingan dan pelayanan bagi siswa, dan sebagai model yang akan ditiru oleh siswanya.
Guru bukanlah pemeran utama dalam pembelajaran tetapi bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis scenario yang dituangkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Kemudian siswa sebagai pemeran dapat memilih sebagai pemeran utama, pemeran pembantu, ataupun hanya sebagai piguran. Hal ini tergantung pada intake dan usaha siswa sendiri. Semua proses pembelajaran akan membutuhkan kreativitas dan inovasi para guru. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang bagaimana mengajar yang baik dengan mengetahui strategi dan model-model yang cocok dan sesuai dengan tujuan pembelajarannya.
Strategi bagi guru merupakan pendekatan umum mengajar yang berlaku dalam berbagai bidang materi dan digunakan untuk memenuhi berbagai tujuan pembelajaran.  Sedangkan model pembelajaran adalah pendekatan spesifik dalam mengajar.
Jika dianalogikan maka strategi mengajar adalah rancangan yang ada dalam benak guru, sedangkan model pembelajaran merupakan cetakbirunnya. Dengan adanya model pembelajaran yang dipakai oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka proses pembelajaran akan lebih sistemtis dan efisien. Dengan model pembelajaran, maka kreativitas guru akan muncul.

 
II.            RINGKASAN/SUMMARY BUKU
Pendahuluan
Diawal pendahuluan  penulis  mengantar kita tentang tujuan penulisan buku ini dengan menegaskan bahwa  faktor yang paling kuat berpengaruh  pada pengembangan dan pembelajaran siswa adalah guru bahkan lebih penting daripada kurikulum, teknologi, pengaturan ruang kelas, rekan sebaya, pendanaan, ukuran sekolah dan ruang kelas atau kepala sekolah. Harapan penulis adalah pembaca (guru di Amerika)  dapat memahami dan melatih diri menjadi lebih baik lagi.  
Selanjutnya penulis menjelaskan bahwa buku ini adalah edisi keenam, dan di dalamnya terdapat fitur-fitur baru yang dirancang sedemikian rupa sehingga menjadikan buku ini  sebuah buku yang paling praktis dan bisa diterapkan di kelas. Penulis juga menjelaskan di setiap bab akan ditemukan studi kasus dalam bentuk tertulis dan video yang mengambil ruang kelas sungguhan sebagai latar. Bahkan penulis mengklaim hal ini tidak akan ditemui di buku lain yang sejenis.
Kemudian informasi selanjutnya adalah tentang keseluruhan isi buku, dan pembahasan khusus tentang suatu website sebagai pendukung buku ini yaitu www.myeducationlab.com yang dengannya kita (guru di Amerika) dapat mengakses video studi kasus yang di sajikan dalam buku ini.

BAB 1
Model Mengajar dan Mengembangkan Sebagai Seorang Guru
Ini adalah buku tentang berbagai pendekatan dalam mengajar. Sudah diyakini luas bahwa guru yang memvariasikan pengajaran mereka memiliki keahlian profesi lebih tinggi dan menghasilkan lebih banyak pembelajaran dalam diri siswa mereka ketimbang guru y ang menggunakan pendekatan sama untuk memenuhi semua tujuan belajar mereka. Demikianlah paparan penulis dan untuk menguatkan pendapatnya dikemukakanlah hasil-hasil penelitian yang menunjukkan bahwa, hanya di bawah siswa  itu sendiri, guru adalah pengaruh  terpenting pada pembelajaran siswa.
Guru yang ahli sangat memahami  materi yang mereka ajarkan dan mampu  mempresentasikan materi ini dalam  cara yang dipahami siswa. Guru yang ahli memiliki khazanah strategi mengajar yang bisa mereka gunakan  untuk membantu siswa memenuhi tujuan pembelajaran yang berbeda.
Selanjutnya kita diantarkan pada pemahaman tentang strategi dan model mengajar. Strategi mengajar adalah pendekatan umum  mengajar yang berlaku bagi semua bidang materi, topik, dan tingkat perkembangan siswa, Model mengajar adalah pendekatan spesifik  mengajar yang mencakup serangkaian langkah spesifik yang dirancang untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan pemikiran kritis mereka dan mendapatkan pemahaman mendalam tentang bentuk-bentuk spesifik dari materi. Selanjutnya kita akan jumpai gambaran yang jelas tentang domain pembelajaran. Domain kognitif adalah domain penbelajaran yang berfokus pada pengetahuan dan keahlian intelektual. Komponen kognitif juga ada di dalam domain afektif, psikomotorik, dan
.Pembahasan selanjutnya yaitu tentang  standar pendidkan di Amerika Serikat, dan  organisasi yang terlibat di dalamnya. Penulis menjelaskan bahwa standar adalah sumber penting bagi tujuan dalam ruang kelas masa kini, dan membantu siswa memenuhi keluasan ragam standar yang ada menuntut pendekatan berbeda dalam mengajar. Organisasi profesi, seperti INTASC dan XBPTS, mengakui kebutuhan akan alternatif mengajar dan menyebutkan secara spesifik kebutuhan ini di dalam standar dan proposisi mereka.
Lalu penulis menggambarkan latar belakang siswa di Amerika Serikat.  Siswa pada masa kini datang dari latar belakang kultural dan linguistik yang berbeda dan lebih beragam ketimbang di masa lalu sehingga  nyaris di semua ruang kelas, guru pasti akan mendapatkan sejumlah siswa dengan kebutuhan belajar khusus. Merespons keberagaman kultural dan linguistik, bersama dengan memenuhi kebutuhan murid dengan kebutuhan khusus, menuntut penyesuaian dalam pendekatan mengajar. Selanjutnya penulis memaparkan bahwa dunia masa kini sangat dipengaruhi oleh teknologi dan teknologi dapat menjadi alat yang kuat untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Akan tetapi, teknologi hanyalah alat dan tidak boleh digunakan hanya karena teknologi itu sendiri.
Terdapat sub bab tentang bagaimana pembuatan keputusan dan praktik reflektif.  Pada bagian ini dijelaskan bahwa membuat keputusan dalam situasi yang kurang jelas (Ill-defined) adalah bagian tak terpisahkan dari mengajar dan tidak ada strategi atau model mengajar yang dapat menentukan segala keputusan yang harus diambil guru. Proses praktik reflektif bisa membantu guru merenungkan keputusan mereka dan mempertimbangkan perubahan yang dapat meningkatkan pembelajaran bagi semua siswa mereka. Praktik reflektif juga bisa membantu guru menyesuaikan strategi dan model mengajar yang paling baik memenuhi kebutuhan siswa



BAB 2

Belajar, Motivasi, Dan Model Pengajaran

Pentingnya Iklim Ruang Kelas

Bagian ini  dideskripsikan oleh penulis secara jelas tentang pentingnya  iklim  ruang kelas. Lingkungan fisik ruang kelas yang aman dan tertib, serta atmosfer emosionalnya adalah iklim ruang kelas yang dimaksud penulis. . iklim ruang kelas positif penting bagi pembelajaran. Tidak ada strategi pengajaran atau model pengajaran yang  akan efektif jika iklim ruang kelasnya negatif.  Guru dapat menciptakan iklim ruang kelas positif jika  mereka memodelkan atau  atau mencontohkan perilaku yang mereka  inginkan untuk ditiru oleh siswa, menunjukkan bahwa guru  peduli  terhadap pembelajaran siswa  memperlakukan  siswa secara manusiawi, mempertahankan ekspektasi positif  terhadap  pembelajaran dan perilaku  dan perilaku, terl serta menunjukkan keyakinan  bahwa mereka dapat membantu  semua siswa belajar epas dari latar  belakang siswa atau kondisi siswa di  sekolah. Iklim ruang kelas positif penting bagi  semua siswa, namun untuk siswa yang belakangnya 'beragam, maka iklim positif itu merupakan hal yang sangat  mendasar.

Teori Pembelajaran Kognitif

Penulis merupakan pendukung teori pembelajaran kognitif. Dengan jelas penulis mengungkapkan  bahwa dalam teori pembelajaran kognitif pembelajaran dan perkembangan tergantung pada pengalaman murid, bahwa orang ingin pengalaman mereka masuk akal, orang membangun pengetahuan untuk memahami pengalaman-pengalaman mereka, pengetahuan yang dibangun murid tergantung pada pengetahuan dan pengalaman  mereka  sebelumnya,  interaksi sosial dan penggunaan bahasa memfasiltasi konstruksi pengetahuan, belajar menuntut latihan dan umpan balik, dan   pembelajaran akan  meningkat saat pengalaman belajar dihubungkan dengan dunia nyata.

Semua pembelajaran mulai dengan perhatan dan tidak ada strategi atau model yang akan efektif jika siswa tidak memperhatikan pelajaran. Siswa harus mempersepsikan pengalaman mereka secara akurat karena persepsi mereka adalah apa yang pada akhirnya disimpan dalam memori. Memori kerja siswa—gudang memori yang mereka gunakan untuk membangun pemahaman yang masuk akal bagi mereka —adalah terbatas dan dengan mudah bisa kelebihan beban. Informasi akan disimpan paling efisien di dalam memori jangka panjang apabila informasi itu terhubung dengan informasi terkait.

 Motivasi Pembelajar



Pada bagian ini akan ditemui pembahasan tentang defenisi motivasi, dan bagimana peranan guru mendorong motivasi siswa di ruang belajar. Penulis menyatakan bahwa motivasi adalah sebuah daya yang menggerakkan, memelihara, dan mengarahkan perilaku menuju satu tujuan. Motivasi intrinsik adalah motivasi untuk terlibat di dalam suatu tugas karena tugas itu sendiri, sementara motivasi ekstrinsik adalah motivasi untuk terlibat di dalam suatu tugas sebagai sarana mencapai tujuan. Motivasi untuk belajar menggambarkan kecenderungan murid untuk mencari kegiatan akademis yang bermakna dan setimpal serta berusaha mendapatkan manfaat belajar yang diniatkan dari kegiatan tersebut.

Sifat-sifat guru vang membantu menciptakan suatu iklim ruang kelas positif juga mendorong motivasi siswa untuk belajar. Ruang kelas yang aman dan tertib berkontribusi pada motivasi siswa untuk belajar. Membantu siswa berhasil, menciptakan tantangan, membuat contoh jadi personal, melibatkan siswa, dan melakukan asesmen menyeluruh dan sering terhadap siswa serta memberikan umpan balik mendetail akan berkontribusi pada motivasi siswa untuk belajar.

Bab 3

Merencanakan Pengajaran: Strategi Mengajar Utama



Pada awal  bab 3, penulis mengupas secara lugas dan tajam tentang bagaimana merencanakan pembelajaran, menetapkan strategi mengajar yang cocok dengan tujuan pembelajaran.

Perencanaan melibatkan pembuatan keputusan tentang tujuan belajar, kegiatan belajar yang akan membantu siswa mencapai tujuan, dan asesmen yang akan menentukan sejauh mana  tujuan telah dicapai. Keselarasan instruksional menggambarkan kesesuaian antara tujuan belajar, kegiatan belajar, dan asesmen.

Strategi mengajar utama adalah kemampuan  yang seyogianya dimiliki semua guru, terlepas dari pengalaman,  kelas yang mereka ajar, atau topik nereka demi memaksimalkan kuantitas pengetahuan.

Modeling dan antusiasme, ekspektasi, kepedulian dan efektivitas pengajaran   pribadi guru adalah sama utama atau pentingnya untuk mendorong pembelajaran sebagaimana pentingnya  semua  itu bagi motivasi murid dan bagi paya menciptakan iklim ruang kelas  positif. Strategi mengajar utama mencakup penyusunan kegiatan belajar supaya waktu yang tersedia untuk mengajar dapat dimaksimalkan, berkomunikasi secara jelas, menarik dan mempertahankan perhatian siswa, memberikan umpan balik  informasi tentang kemajuan belajar, memantau tanda-tanda apakah siswa bingung atau kurang perhatian, menggunakan pengajuan pertanyaan secara cakap untuk melibatkan semua siswa,  dan mereview informasi penting untuk memastikan validnya pemahaman siswa.

Selanjutnya penulis menyajikan dengan gamblang tentang strategi mengajar dan mengajar siswa berpikir. Berpikir kritis adalah kemampuan dan kecenderungan untuk membuat dan melakukan asesmen terhadap kesimpulan yang didasarkan pada bukti. Hal ini dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. Guru dapat mendorong pemikiran kritis di dalam ruang kelas dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti "Bagaimana kalian tahu?" dan "Mengapa kalian mengatakan itu?" Pertanyaan-pertanyaan ini bisa diintegrasikan dengan mudah ke dalam kegiatan belajar. Dengan kesadaran bahwa guru juga bisa mengintegrasikan tingkat berpikir lanjutan, seperti mengenali informasi yang relevan dan tidak relevan, generalisasi berlebihan dan kurangnya generalisasi, bias, stereotipe, dan propaganda ke dalam kegiatan belajar mereka saat peluang-peluang muncul. Mengajar berpikir juga bisa meningkatkan motivasi murid karena memberikan bukti akan membantu siswa merasa cakap dan "pintar".

Memodelkan atau mencontohkan kecenderungan berpikir, seperti keinginan untuk mendapatkan informasi, kecenderungan untuk mencari bukti, dan tetap berpikiran terbuka, adalah penting bagi semua guru karena kecenderungan-kecenderungan ini sulit untuk diajarkan secara langsung. yang relevan dan tidak relevan, generalisasi berlebihan dan kurangnya generalisasi, bias, stereotipe, dan propaganda ke dalam kegiatan belajar mereka saat peluang-peluang muncul.

Mengajar berpikir juga bisa meningkatkan motivasi murid karena memberikan bukti akan membantu siswa merasa cakap dan "pintar". Memodelkan atau mencontohkan kecenderungan berpikir, seperti keinginan untuk mendapatkan informasi, kecenderungan untuk mencari bukti, dan tetap berpikiran terbuka, adalah penting bagi semua guru karena kecenderungan-kecenderungan ini sulit untuk diajarkan secara  langsung.



Bab 4

Ringkasan materi Bab 4 sebagai berikut:



Ciri-ciri Kerja Kelompok Efektif dan Pembelajaran Kooperatif

Kerja kelompok dan pembelajaran kooperatif terdiri dari sisvva bekerja sama di dalam kelompok-kelompok yang cukup kecil supaya setiap orang dapat berpartisipasi di dalam tugas yang diberikan secara jelas. Tujuan belajar mengarahkan kegiatan kelompok, guru meminta sisvva bertanggung jawab secara individu atas pemahaman mereka, dan murid saling tergantung untuk mencapai tujuan— semua ini adalah ciri-ciri penting. Salah satu manfaat terpenting kerja kelompok dan pembelajaran kooperatif adalah perkembangan keterampilan sosial, seperti mendengarkan dengan penuh perhatian, menyelesaikan ketidaksepakatan secara diplomatis, dan memahami sudut pandang orang lain.



Strategi kerja kelompok

Kerja kelompok adalah satu strategi yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan siswa lewat interaksi sisvva-siswa saat model lain digunakan. Syarat merencanakan dan menerapkan strategi kerja kelompok adalah mendudukkan anggota kelompok bersama-sama; memberikan arahan jelas; dan menuntut sisvva menghasilkan satu produk demi mencegah perilaku di luar tugas; dan menciptakan kegiatan untuk mengembangkan keterampilan berinteraksi.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe  pasangan belajar (learning pairs) adalah bentuk kerja kelompok paling sederhana, diantaranya strategi seperti think-pair-share, pairs check, combining pairs, dan teammates consult.



Jenis-jenis pembelajaran kooperatif



Pembelajaran kooperatif adalah sekelompok strategi mengajar yang memberikan peran terstruktur bagi sisvva sambil menekankan interaksi sisvva-siswa.

1.        Jigsaw adalah strategi pembelajaran kooperatif di mana sisvva individu menjadi pakar dalam subbagian satu topik dan mengajarkan subbagian itu kepada orang lain.Jigsaw dirancang untuk membantu sisvva mendapatkan bangunan pengetahuan sistematis melalui proses spesialisasi tugas, yang menuntut siswa berbeda memainkan peran-peran khusus untuk mencapai tujuan satu kegiatan belajar.

2.    Student Teams Achievement Divisions (STAD) adalah strategi pembelajaran kooperatif yang memberi tim berkemampuan majemuk praktik untuk mempelajari konsep dan keterampilan. STAD umumnya digunakan secara kombinasi dengan instruksi langsung, tapi STAD menggunakan studi tim untuk menggantikan praktik mandiri, yang merupakan fase terakhir di dalam pengajaran langsung. STAD dirancang untuk meningkatkan motivasi murid dengan memberi siswa poin perbaikan dan ganjaran tim bagi peningkatan prestasi atau kinerja.



Strategi Diskusi

Diskusi adalah strategi pengajaran (instruksional) yang melibatkan siswa untuk berbagi ide tentang satu topik umum. Diskusi mirip dengan kerja kelompok dan pembelajaran kooperatif karena menekankan interaksi sisvva-siswa. Kerja kelompok dapat dikombinasikan secara efisien dengan strategi pembelajaran kooperatif dan model pengajaran Iainnya. Diskusi yang tidak berhasil biasanya terjadi karena kurangnya pengetahuan awal siswa, adanya siswa yang terbuka atau agresif mendominasi diskusi, atau arahan yang tidak jelas.



Pembelajaran Kooperatif dan Diskusi dalam Lingkungan Belajar yang  Berbeda

Keterampilan sosial seperti mendengarkan secara penuh perhatian waktu seseorang berbicara penting di dalam komunikasi tatap muka, ada keterampilan dan konversi sosial tertentu vang harus diikuti cii dalam komunikasi elektronik. Panduan bagi komunikasi elektronik efektif mencakup menjaga komunilasi tertulis, seperti surel, pendek dan langsung ke inti permasalahan; menjaga nada yang menyenangkan dan mendukung; menggunakan tata bahasa, koma, dan ejaan yang tepat; dan secara hari-hati menghindari komunikasi agresif dan destruktif, seperti caci-maki (flaming) dan cvber-bullying.

Kerja kelompok, pembelajaran kooperatif, dan diskusi dapat digunakan bersama anak kecil jika mereka diatur secara cermat, memberikan arahan jelas, dan menggunakan bahan-bahan yang dikenal, seperti cerita yang baru dibaca. Kerja kelompok, penmbelajaran kooperatif, dan diskusi dapat meningkatkan motivasi siswa dengan memanfaatkan efek motivasi dari interaksi dan keterlibatan sosial.





Bab 5

Strategi yang diajarkan lewat Model Temuan Terbimbing



Model temuan terbimbing digunakan untuk mengajarkan konsep (kategori dengan karakteristik-karakterisrik yang sama) dan generalisasi (hubungan antara konsep). Beberapa generalisasi dianggap berlaku bagi semua kasus dan secara umum disebut prinsip atau hukum. Generalisasi lainnya secara manasuka diturunkan oleh manusia dan disebut aturan-aruran akademis. Model ini juga dirancang untuk membanru siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka.

Selama perencanaan, guru mengidentifikasi topik, menciptakan tujuan belajaryang pasti, dan menemukan atau menyiapkan contoh berkualitas-tinggi.  Contoh dapat meliputi materi konkret, gambar, model, studi kasus, atau simulasi dan permainan peran.

Contoh-contoh berkualitas tinggi mencakup semua informasi yang dibutuhkan sisvva untuk memahami topik. Contoh-contoh itu adalah alat paling erektif bagi guru untuk mengakomodasi perbedaan latar belakang di antara siswa. Contoh-contoh itu  pada hakikatnya "menyamakan medan permainan" bagi siswa.

Menerapkan pelajaran menggunakan  model temuan terbimbing dimulai d perkenalan singkat yang diikuti fase berujung-terbuka di mana siswa  didorong melakukan observasi perbandingan di antara contoh-contoh yang disajikan. Fase berujung-terbuka diikuti fase konvergen di mana guru secara bertahap membimbing siswa mencapai tujuan pembelajaran.

Pelajaran selesai tatkala siswa mampu mendefinisikan konsep menyatakan hubungan di dalam generalisasi, dan menerapkan pada situasi baru serta, idealnya dunia nyata.

Kemampuan guru untuk menggunakan pertanyaan-pertanyaan merpakan hal penting untuk mendorong pemahaman mendalam tentang topik dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Pemahaman  dan pemikiran akan  saling terkait dan dicapai terutama lewat pengajuan pertanyaan oleh guru seperti "Mengapa?", "Bagaimana kau tahu?"; dan "Apa yang akan terjadi jika?"

Model Temuan Terbimbing memanfaatkan efek motivasi intrinsik dari keterlibatan siswa dan rasa misteri. Fase berujung-terbuka dari model ini dengan penekanan pada pertanyaan  berujung-terbuka, secara unik mendorong tingkat keterlibatan siswa yang tinggi, yang meningkatkan minat siswa dan persepsi terhadap kontrol dan otonomi. Karena pelajaran dimulai dengan upaya menemukan pola-pola yang belum dinvatakan secara terbuka oleh guru, rasa penasaran dan tantangan disuntikkan. Saat tantangan teratasi, persepsi murid terhadap kompetensi mereka akan meningkat.

Model temuan terbimbing bisa langsung diadaptasi untuk siswa dari usia yang berbeda. Saat menggunakan model ini dengan anak-anak kecil, contoh konkret menjadi penting. Anak kecil merespons dengan baik fase berujung-terbuka dari pelajaran temuan terbimbing dan guru harus memutuskan seberapa lama mereka akan membiarkan fase ini berlangsung. Pelajaran temuan terbimbing dengan anak-anak kecil  cenderung lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak yang lebih tua.

Saat menggunakan Model Temuan Terbimbing dengan siswa lebih tua, contoh berkualitas tinggi tetap penting. Fase berujung-terbuka mungkin perlu pembiasaan karena siswa berusia lebih tua sudah terbiasa menjawab pertanyaan spesifik dengan satu jawaban yang benar. Guru bisa kreatif dalam cara mereka menyiapkan dan menggunakan contoh. Saat keahlian mereka meningkat, mereka bisa belajar menggunakan model ini secara spontan.

Penilaian pembelajaran temuan terbimbig efektif sesuai dengan tujuan guru. Tes kertas-dan-pensil serta asesmen kinerja bisa digunakan untuk mengukur pemahaman siswa. Asesmen yang memanfaatkan penerapan di dalam konteks dunia nyata dan mencakup umpan balik mendetail adalah beberapa alat paling ampuh yang dimiliki guru untuk meningkatkan pembelajaran.





Bab 6

Model Peraihan Konsep

Pembahasan bab 6 dimulai dengan tujuan belajar bagi model Peraihan konsep. Model ini dirancang untuk membantu siswa memperdalam dan memperkaya pemahaman mereka tentang konsep-konsep dimana mereka memiliki pengalaman tentangnya. Pelajaran peraihan konsep juga membantu siswa memperdalam pemahaman mereka tentang konsep yang terkait erat. Model peraihan konsep  secara unik dapat memberi siswa latihan berpikir kritis dan khususnya latihan menguji hipotesis dalam konteks metode ilmiah.

Dalam perencanaan pelajaran dengan model peraihan konsep guru merencanakan kegiatan peraihan konsep dengan mengidentifikasi satu konsep spesifik dan menciptakan atau menemukan contoh-contoh dan noncontoh dari konsep tersebut.  Setelah mengidentifikasi contoh dan noncontoh, siswa mengurutkan kesemuanya itu lewat cara yang secara maksimal memberikan jumlah praktik atau latihan pengujian hipotesis dan ini adalah langkah terakhir di dalam proses perencanaan.

Penerapan pelajaran menggunakan model peraihan konsep guru harus menggunakan topik yang akrab untuk memperkenalkan strategi ini bisa efektif, terutama ketika menggunakan model ini untuk anak-anak kecil karena murid cenderung tidak akrab dengan prosedur peraihan konsep. Pelajaran dimulai ketika guru memberikan contoh dan noncontoh. Siswa kemudian membuat hipotesis, yang diikuti oleh lebih banyak contoh, analisis terhadap hipotesis dengan menggunakan contoh tambahan, dan melanjutkan pengujian hipotesis sampai mendapatkan satu hipotesis tunggal. Pelajaran ditutup saat konsep terdefinisikan, karakteristik teridentifikasi, dan konsep dapat dihubungkan dengan konsep-konsep yang terkait.

Bagaimana mengadaptasi model peraihan konsep di dalam lingkungan belajar yang berbeda yaitu melalui pembuatan topik dan contoh konkret serta mengurangi penekanan pada noncontoh. Terutama untuk anak-anak kecil. Mempertimbankan dengan cermat pengetahuan awal siswa dan penggunaan kerja kelompok. Hal ini akan menjadi solusi  saat menangani siswa yang berada dalam kultur minoritas

Ketika peraihan konsep 2 tercapai dikarenakan murid secara strategis telah  memilih contoh-contoh dari satu daftar yang diberikan oleh guru untuk menguji hipotesis. Selanjutnya peraihan  konsep 3 terjadi murid mampu membuat contoh mereka sendiri untuk menguji hipotesis mereka.

Teknologi bisa digunakan untuk menciptakan program pembelajaran yang memungkinkan siswa mengikuti kegiatan-kegiatan peraihan konsep di dalam lingkungan yang lebih individual.

Penilaian Pembelajaran model peraihan konsep, dapat dilakukan guru melalui pelatihan pada siswa untuk dapat mendefenisikan konsep, mengidentifikasi karakteristik-karakteristik konsep, mengidentifikasi hubungan antara konsep dan konsep-konsep yang saling terkait, atau membuat contoh unik dari konsep tersebut. Hal terakhir ini merupakan cara penilaian paling efektif. Guru dapat pula menilai berpikir kritis dengan meminta siswa menganalisis  hipotesis saat mereka mendapat contoh-contoh tambahan.





Bab 7

Model Integratif

Model Integrant dirancang untuk membantu siswa memahami bangunan pengetahuan sistematis (organized body of knowledge), topik yang mengkombinasikan fakta, konsep, generalisasi, dan hubungan di antara semua itu.  Model Integratif juga dirancang untuk memberi siswa latihan berpikir kritis.

Perencanaan  pelajaran dengan model integrative mencakup: identifikasi topik, menentukan tujuan belajar yang jelas, dan kemudian menyiapkan penyajian data untuk membantu siswa mencapai tujuan. Penyajian dataumumnya dalam bentuk matriks, tapi bisa juga mencakup grafik, peta, dan diagram dalam bentuk gambar.

Menerapkan pelajaran menggunakan Model Integratif melibatkan empat fase. Dalam fase berujung-terbuka, murid mengamati, membandingkan, dan mencari pola. Dalam fase kedua, fase kausal, siswa memberikan penjelasan bagi kesamaan dan perbedaan yang mereka temui. Dalam fase ketiga, fase hipotetis, siswa memikirkan kemungkinan-kemungkinan bagi kondisi-kondisi yang berbeda. Dalam fase terakhir, penutup dan penerapan, siswa membuat generalisasi luas berdasarkan analisis mereka terhadap data. Sesering mungkin, siswa diminta menjustifikasi pemikiran mereka dengan menawarkan data yang diambil dari sajian data untuk mempertahankan kesimpulan mereka.

Model Integratif memanfaatkan efek penyemangat atau motivasi (motivating) dari keterlibatan, keberhasilan, dan tantangan. Kemudian, saat kemampuan siswa untuk membuat dan mencatat penjelasan serta hipotesis meningkat, persepsi mereka terhadap kompetensi mereka pun ikut meningkat.  Model Integratif cocok dengan kegiatan kerja sama, yang dapat memanfaatkan manfaat penyemangat dari interaksi sosial.

Model Integratif dapat digunakan secara efektif bersama anak-anak kecil dengan membuat sajian data dalam bentuk gambar. Menyusun informasi dalam bentuk gambar juga meningkatkan efektivitasnya bagi siswa yang tidak memiliki pengalaman dengan topik yang ada atau bagi siswa yang bukan penutur asli Bahasa Inggris. Diagram, grafik, dan peta dari buku teks juga berfungsi sebagai data siap saji yang bisa digunakan dalam pelajaran Model Integratif. Juga, data yang akan dianalisa bisa dikumpulkan sepanjang diskusi kelas.

Saat Model Integratif Digunakan untuk menilai pemahaman siswa tentang topik dan kemampuan mereka untuk berpikir kritis bisa diukur berbarengan dengan cara meminta mereka membuat dan menilai kesimpulan tentang informasi dari matriks yang sudah mereka pelajari atau yang memiliki sajian data unik. Layaknya semua pengajaran, asesmen harus menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar mengajar. Saat asesmen dilakukan secara sering dan menyeluruh, dan siswa diberikan umpan balik mendetail tentang kinerj. mereka, asesmen dapat menjadi alat ampuh untuk meningkatkan pembelajaran.







Bab 8

Model Pembelajaran Berbasis-Masalah

Merencanakan Pelajaran untuk Pembelajaran Berbasis-Masalah

Pembelajaran Berbasis-Masalah adalah satu model pengajaran  yang menggunakan masalah sebagai fokus untuk mengembangkan keterampilan pemecahan-masalah, materi (konten), dan pengendalian diri. Selama pelajaran Pembelajaran Berbasis-Masalah, memecahkan satu masalah spesifik adalah tujuan pelajaran. Tanggung jawab untuk memecahkan masalah itu ada pada diri sisvva, dan guru memandu proses pemecahan-masalah.

Merencanakan pelajaran untuk Pembelajaran Berbasis-Masalah mulai ketika satu topik diidentifikasi dan tujuan belajar dinyatakan.  Perencanaan berlanjut dengan memilih satu masalah yang akan berfungsi sebagai fokus pelajaran. Proses ini selesai saat terjadi akses pada materi yang memungkinkan sisvva mencari solusi masalah.

Penerapan Pelajaran Berbasis-Masalah mulai diterapkan saat guru pertama-tama mereview pengetahuan awal yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah dan memberi siswa satu masalah untuk dipecahkan. Dengan bimbingan dari guru, siswa kemudian merancang dan menerapkan strategi untuk memecahkan masalah. Pelajaran untuk Pembelajaran Berbasis-Masalah ditutup kala siswa menyajikan dan membahas hasil-hasil dari upaya pemecahiin masalah mereka.

Salah satu komponen penting dalam pembelajaran berbasis masalah adalah melakukan penyelidikan. Penyelidikan adalah satu proses untuk secara sistematis menjawab pertanyaan berdasarkan bukti. Penyelidikan didasarkan pada metode  ilmiah dan dirancang untuk memberi siswa latihan dalam penelitian ilmiah. Pelajaran yang menggunakan Penyelidikan mulai dengan pertanyaan yang dijawab siswa secara sementara (berhipotesis). Data kemudian dikumpulkan, yang memungkinkan asesmen terhadap hipotesis. Pelajaran ditutup saat siswa membuat generalisasi dari asesmen terhadap hipotesis mereka. Penyelidikan bisa dimodifikasi supaya efektif dalam berbagai bidang materi. Modifikasi primer terjadi dalam cara pengumpulan data untuk menyelidiki hipotesis.

Pembelajaran Berbasis-Masalah bisa digunakan bersama anak-anak kecil dengan menyajikan masalah secara spesifik dan konkret seraya memberi siswa bimbingan yang diperlukan untuk memecahkan masalah dengan sukses. Saat melakukan kegiatan Pembelajaran Berbasis Masalah bersama siswa yang memiliki latar belakang yang berbeda, upaya harus dikerahkan demi memastikan sisvva memiliki pengetahuan awal yang dibutuhkan untuk menyelidiki masalah dengan sukses.

Kegiatan Pembelajaran Berbasis-Masalah memanfaatkan efek motivasi dari rasa ingin tahu dan tantangan, tugas autentik, dan keterlibatan serta otonomi. Memulai kegiatan dengan satu masalah akan mendorong rasa ingin tahu dan tantangan, tugas-tugas autentik mengaitkan materi abstrak dengan dunia nyata, dan otonomi serta keterlibatan tercipta saat kegiatan dilaksanakan.

Penilaian model pembelajaram berbasis masalah dapat dilakukan dengan cara menilai hasil dari proses. Asesmen kinerja, pengamatan sistematis, dattar periksa, dan skala pemeringkatan memberi guru dan siswa umpan balik informatif tentang kemajuan belajar. Studi kasus memberikan cara tambahan untuk menilai pembelajaran dalam pelajaran Penyelidikan. Dengan memberi siswa kasus-kasus berbasis-Penyelidikan, guru dapat menilai proses-proses komponen berbeda dalam Penyelidikan.



Bab 9

Model Pembelajaran Langsung



Merencanakan pelajaran untuk Model Pengajaran Langsung dimulai saat guru mengidentifikasi satu keterampilan spesifik yang mereka ingin siswa pahami dan gunakan. Ini diikuti dengan mengidentifikasi tujuan-tujuan belajar spesifik yang diharapkan siswa pelajari. Langkah ketiga dalam perencanaan adalah menemukan atau membuat contoh-contoh berkualitas-tinggi yang membantu siswa mengembangkan fondasi konseptual bagi keterampilan-keterampilan yang akan mereka terapkan kemudian, bersama dengan masalah-masalah yang akan mereka pecahkan selama latihan.

Menerapkan Pelajaran untuk Pembelajaran langsung melalui empat fase berangkai, yaitu perkenalan, presentasi, praktik terbimbing, dan praktik mandiri. Penggunaan contoh dan soal yang sudah dipikir masak-masak adalah kunci keberhasilan kegiatan pembelajaran di mana model itu digunakan. Meskipun model ini sangat tergantung pada arahan guru, penggunaan efektif Model Pengajaran Langsung menuntut tingkat interaksi tinggi antara guru dan siswa. Pola-pola dalam interaksi ini bergeser saat pelajaran berkembang. Pada awalnya, guru menyajikan informasi dan secara kuat membimbing siswa saat mereka mengerjakan soal dan contoh. Kemudian, siswa kian bekerja sendiri-sendiri sampai mereka bisa menganalisis contoh dan memecahkan soal tanpa bantuan guru.

Meskipun Model Pengajaran Langsung dirancang untuk mengajarkan keterampilan prosedural, tetapi mengembangkan pemikiran kritis sama pentingnya ketika menggunakan model ini sebagaimana saat menggunakan strategi atau model lainnya.

Model Pengajaran Langsung bisa efektif untuk meningkatkan motivasi siswa. Sebab, model ini mendorong keberhasilan siswa sambil memanfaatkan efek motivasi dari tantangan dalam pemecahan masalah. Saat menggunakan model ini, membuat contoh konkret dan personal  penting dalam fase presentasi. Meskipun Model Pengajaran Penting berpusat pada guru, tingkat keterlibatan siswa yang tinggi adalah penting saat menggunakan model ini. Juga, keterlibatan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Model Pengajaran Langsung terutama efektif saat mengajari siswa yang latar belakangnya beragam. Sebab, model ini memberikan struktur dan kesempatan berinteraksi. Struktur memberikan situasi atau lanskap pelajaran yang akrab bagi siswa. Interaksi memberikan peluang bagi guru dan siswa untuk mengidentifikasi contoh-contoh yang sama-sama bermakna. Tutorial berbasis-teknologi kerap cocok dengan struktur Model Pengajaran Langsung dan berbagai tutorial ada di dalam banyak bidang materi.

Saat menilai pemahaman siswa tentang keterampilan-keterampilan prosedural yang diajarkan dengan menggunakan Model Pengajaran Langsung, guru meminta siswa memecahkan masalah-masalah yang menuntut mereka menerapkan keterampilan-keterampilan yang telah mereka dapatkan. Guru perlu berhati-hati  agar tidak menyusun kata-kata dalam soal yang digunakan untuk asesmen serupa dengan penyusunan kata-kata sepanjang kegiatan belajar. Hal ini akan menghindari siswa memecahkan soal asesmen dengan tepat berdasarkan susunan kata-kata dan lebih berdasarkan pemahaman terhadap keterampilan. Susunan kata-kata asesmen akan tergantung pada pertimbangan profesional guru.



Bab 10

Model Ceramah-Diskusi

Ceramah itu populer karena mudah direncanakan, fleksibel, dan sederhana untuk diterapkan. Namun ceramah kerap tidak efektif, terutama bagi anak-anak kecil dan siswa yang bermotivasi rendah. Sebab, ceramah menempatkan murid dalam peran pasif, umumnya membebani secara berlebihan memori kerja para murid, dan tidak memungkinkan guru untuk secara informal menilai kemajuan pembelajaran.

Ceramah yang dipadukan dengan diskusi membantu mengatasi kekurangan-kekurangan ceramah dengan menggabungkan antara periode-periode pendek di mana informasi disajikan dan periode-periode di mana tingkat tinggi keterlibatan siswa didorong, baik dalam situasi kelas-utuh atau kelompok-kecil.

Merencanakan pelajaran ceramah-diskusi melibatkan empat langkah: mengidentifikasi topik, menentukan tujuan belajar, menstrukturkan materi, dan menyiapkan pengantar pelajaran. Karena bangunan pengetahuan sistematis itu luas dan rumit, menentukan tujuan belajar memerlukan lebih banyak pembuatan keputusan dibandingkan kala mengajarkan bentuk-bentuk materi yang lebih spesifik, seperti konsep, generalisasi, atau keterampilan prosedural.

Karena cakupan bangunan pengetahuan sistematis, bangunan itu tidak bisa diajarkan dalam satu pelajaran, sehingga materinya harus distrukturkan supaya bermakna bagi siswa. Panduan awal (advance organizers) adalah pernyataan-pernyataan yang disajikan pada awal pelajaran ceramah-diskusi dan dirancang untuk menarik perhatian siswa dan memberikan kerangka kerja untuk dikaitkan dengan materi pelajaran.

Penerapan  Pelajaran untuk Model Ceramah-Diskusi dimulai dengan satu pengantar yang diniatkan untuk menarik siswa ke dalam pelajaran dan dengan satu panduan awal yang memberikan kerangka kerja bagi pelajaran. Sepanjang tahap presentasi, guru memberi siswa informasi baru dan biasanya menggunakan pengajuan pertanyaan untuk memeriksa persepsi dan pemahaman siswa tentang informasi. Periode menyajikan informasi tambahan terjadi setelah monitoring pemahaman. Kemudian, guru kembali memeriksa pemahaman siswa, kali ini berusaha membantu siswa mengintegrasikan informasi baru dengan informasi yang sebelumnya disajikan.

Model Ceramah-Diskusi, meski dirancang untuk mengajarkan bangunan pengetahuan sistematis, bisa dergan segera diadaptasi untuk  mengajarkan konsep dan generalisasi. Memberikan definisi atau mergungkapkan generalisasi terjadi di dalam fase presentasi. Juga, monitoring pemahaman dan integrasi dicurahkan untuk menganalisis contoh. Model Ceramah-Diskusi cocok bagi anak-anak kecil dan murid tak berpengalaman jika presentasi dibuat singkat dan digabungkan dengan tingkat  interaksi tinggi.

Penilaian pemahaman siswa saat menggunakan  Model ceramah-diskusi adalah berfokus pada pemahaman siswa tentang hubungan di antara topik-topik yang mereka pelajari dan penerapan topik-topik itu pada situasi-situasi baru. Hal ini memerlukan lebih dari sekadar menilai pemahaman terhadap fakta-fakta spesifik, konsep, dan generalisasi. Item-item esai pendek yang meminta siswa untuk menggambarkan hubungan, dan item-item hipotetis yang menuntut siswa untuk mentransfer pemahaman mereka pada situasi-situasi baru, efektif untuk menilai topik-topik yang diajarkan dengan Model Ceramah-Diskusi. Memberi siswa daftar konsep-konsep dan meminta mereka menyusun konsep-konsep itu secara hierarkis juga bisa efektif untuk menilai materi yang diajarkan dengan Model Ceramah-Diskusi.





III.           KOMENTAR, ANALISIS, DAN KAJIAN ISI BUKU SERTA KEKURANGAN DAN KELEBIHANNYA

 A.     Komentar dan Analisis Isi Buku

Buku dengan judul: Strategi Dan Model Pembelajaran (Mengajarkan Konten Dan Keterampilan Berpikir). Edisi keenam memiliki desain cover yang menarik   karena memiliki kombinasi warna hitam bagian atas dengan tulisan judul warna putih sehingga judul  dapat cepat terbaca, dilengkapi sub judul  warna coklat mud dan dicetak miring. Sedangkan bagian bawah warna ungu muda tertera nama pengarang dengan warna kuning. Pada baian ini terdapat  gambar puzzle bentuk lingkaran yang dapat berarti bahwa guru harus mempunyai kemampuan untk menyusun strategi dan mengaplikasikan model pembelajaran dikelas secara utuh yang dengannya mampu membawa siswa pada pemahaman yang saling terintegratif bukan hanya kepingan-kepingan informasi.kemudian setiap bab, terdapat judul yang dilengkapi dengan gambar menarik sesuai dengan isi bab.  

 Pembahasan konsep strategi dan model pembelajaran pada Bab I, bukan lagi sekedar kumpulan teori dari para ahli tetapi bagaimana kedua konsep ini diimplementasikan di ruang-ruang kelas dengan menampilkan  contoh studi kasus konkrik baik secara bentuk narasi/teks maupun video dapat diakses di website www.myeducayionlab.com.dimana seorang guru di suatu sekolah di Amerika yang kemudian yang dibahas pada setiap tahapan/fase pembelajaran.

Hal baru  (bagi pereview ) yang dapat kita temukan dalam Bab 1 buku ini adalah taksonomi Bloom dalam domain kognitif telah direvisi oleh Anderson dan Kratwohl ( 2001) dimana revisi ini berbentuk matriks dengan 24 sel yang mewakili persinggungan dari empat tipe pengetahuan dengan enam proses kognitif  yang kemudian dapat digunakan untuk mengklasifikasikan tujuan-tujuan pembelajaran dan assesmen.

Contoh cara kerja taksonomi ini dipaparkan penulis pada halaman 11 sampai 12. Hal yang patut disyukuri bahwa Kurikulum 2013 telah mengadopsi revisi tersebut dengan mewajibkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat oleh guru uraian materi pengetahuannya harus jelas antara materi konsep, materi factual, dan materi procedural. Adapun pengetahuan metakognitif belum secara konkrit dijabarkan dalam RPP.

Selanjutnya pembahasan akan dilanjutkan bagaimana cara guru di Amerika Serikat menghadapi siswnya dengan latar belakang kultur dan bahasa yang berbeda serta bagaimana standar pendidikan Negara bagian Amerika dan organisasi yang terlibat.

Bagian terakhir Bab I, akan kita jumpai pembahasan bagaimana cara guru melakukan refeltif . sebab tidak ada strategi yang bagus, tetapi strategi yang cocok dengan tujuan pembelajaran, dan model tidak bisa mendikte segala tindakan yang dilakukan oleh guru dan satu model pembelajaran bukanlah pengganti keahlian mengajar. Dengan reflektif, guru dapat menganalisa kekuatan dan kelemahan pembelajaran, karena tidak ada dari kita yang pernah memberikan pelajaran sempurna.

Dalam Bab 2, kita akan dituntun dengan dan diarahkan secara tepat yang diawali dengan contoh studi kasus yang dilakonkan oleh Devonne Lampkin guru kelas 5. Selanjutnya mengalirlah cerita bagaimana guru ini dengan menciptakan iklim ruang kelas positif serta usaha-usaha yang dilakukan untuk memotivasi siswanya. Selanjutnya bagaimana teori pembelajaran kognitif bisa diterapkan untuk meningkatkan pembelajaran semua siswa, serta mengidentifikasi factor-faktor yang meningkatkan motifasi siswa.

Bab 3, membahas tentang bagaimana cara yang harus dilakukan seorang guru agar dapat membuat keputusan-keputusan yang penting dan tepat dalam perencanaan pembelajaran, mengidentifikasi contoh-contoh strategi pengajaran penting dalam kegiatan pembelajaran di kelas, serta bagaimana pemikiran kritis bisa diintegrasikan dengan kegiatan pembelajaran di ruang kelas.

Bab 4 membahas tentng bagaimana kita mengenali elemen-elemen penting dari kerja kelompok dan strategi pembelajaran kelompok. Selanjutnya bagaimana merencanakan dan merencanakan pembelajaran kelompok, merencanakan dan menerapkan pembelajaran Jigsaw, dan STAD. Kemudian pembahasan dilanjutkan tentang rencana dan penerapan metode diskusi. Pada bagian akhir membahas tentang  bagaimana cara mendorong perkembangan social dengan teknologi dan memanfaatkan interaksi siswa yang memiliki usia berbeda-beda.

Dari awal sampai akhir, penulis tidak pernah menyinggung bahwa pembelajaran kooperatif termasuk model pembelajaran. Penulis hanya membahas pembelajaran kooperatif dengan memakai istilah “strategi pembelajaran kooperatif”

Bab 5, membahas tentang bagaimana cara mengenali jenis-jenis materi yang diajarkan secara efektif dengan model temuan terbimbing., merencanakan pembelajarannya, menerapkannya di kelas, mengadaptasi model temuan terbimbing bagi siswa dari kelompok usia dan latar belakang berbeda, dan bagaimana menilai materi yang diajarkan dengan model temuan terbimbing.

Bab 6, membahas tentang cara mengenali tujuan yang dicapai secara efektif lewat model peaihan konsep, merencanakan dan menerapkannya, bagaimana mengadaptasi model peraihan konsep dalam konteks pembelajaran yang berbeda-beda, serta cara menilai hasil siswa dalm model peraihan konsep.

Bab 7, pembahasan tentang bagaimana mengenali jenis materi yang diajarkan efektif jika memakai model integrative. Selanjutnya bagaimana merencanakan, menerapkan, mengadaptasi model integrative pada usia dan latar belakang berbeda, serta bagaimana cara menilai pemahaman siswa tentang materi jika memakai model integrative.

Bab 8, membahas tentang bagaimana merencakana pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah, dan menerapkannya. Kemudian membahas tenntang bagaimana perencanaan dan penerapanan pembelajaran menggunakan model penyelidikan. Selanjutnya cara mengadaptasi dan menilai pembelajaran dengan penggunan model pembelajaran berbasis masalah.

Pada bab ini penulis membahas tersendiri bagaimana cara merencanakan dan menerapkan model penyelidikan di kelas. Padahal, penyelidikan adalah bagian dari model pembelajaran berbasis masalah. Namun setelah dicermati ternyata memang penyelidikan merupakan kajian yang cukup luas dan mempunyai sitematika tersendiri. Model penyelidikan terkait dengan modell peraihan konsep.

Bab 9 membahas tentang merencanakan dan menrapakan model pengajaran langsung, bagaimana mengadaptasinya dengan memanfaatkan teknologi, bagaimana model pengajaran langsung diterapkan pada siswa yang memiliki perbedaan budaya dan linguistic. Selanjutnya bagaimana menilai pemahaman dan keterampilan siswa.

Bab 10, pembahasan dimulai dengan gambaran baimana perbedaan hakiki antara ceramah dan ceramah diskusi sebagai pendekatan dalam mengajar. Selanjutnya membahas perencanaan dan penerapan model eramah-diskusi, mengadaptasi model ceramah-diskusi dalam lingkungan beaj dan kontks yang berbeda, serta cara menilai pemahaman siswa tentang materi yang diajakan dengan menggunakan cara yang berbeda.

Hal menarik dalam Bab 10 ini bahwa penulis menggolongkan ceramah-diskusi sebagai sebuah model (halaman 400; “Diane menggunakan Model Ceramah-diskusi, sebuah model pengajaran yangdirancang untuk membangun siswa memahami bangunan pengetahuan sistematis.”  Bagi beberapa kalangan ceramah-diskusi tidak boleh lagi dipakai, karena termasuk konvensional dan bahkan. Penulis menggolongkan ceramah sebagai model tradisional. Namun penulis menampilkan ceramah-diskusi dengan apik dan memberikan penekanan bahwa  ceramah-diskusi merupakan modifikasi dari ceramah konvensional yang jika direncanakan dengan baik, kemudian diterapkan dengan tepat, akan dapat membantu siswa menghubungkan fakta-fakta, konsep dan generalisasi serta membuat hubungan diantara semua itu secara eksplisit dan gamblang (hal 400).

B.   Kajian Isi Buku

Buku ini adalah terjemahan terdiri atas Pendahuluan, dan 10 bab pembahasan dengan jumlah halaman 432 dilengkapi lampiran Glosarium.  Keseluruhan pembahasan dibagi atas 2 kelompok yaitu Bab 1, 2, dan 3 memberikan kita tentang pemahaman akan pembelajaran dan motivasi sekaligus strategi mengajar penting yang  mendukung semua pengajaran. Bab 4 sampai Bab 10 menggambarkan model pembelajaran termasuk saran untuk menyesuaikan model dengan konteks-konteks pengajaran berbeda yang kita jumpai di kelas

Disetiap  awal bab, kita akan diberikan panduan garis besar bab dan dilengkapi dengan tujuan pembelajaran sehigga bagi kita yang tergolong mahasiswa bahkan guru telah dapat mengetahui isi bab dengan jelas. Demikian pula setelah kita membaca dan mempelajari setiap bab, maka diakhir pembahasan akan kita jumpai konsep-konsep penting terkait dengan pembahasan,, dan selanjutnya terdapat pula instrument yang bertujuan unuk menilai dan memperdalam pemahaman kita tentang materi disetiap bab dengan berbagai bentuk instrument yang menarik.

Pembahasan yang memadukan konsep Strategi dan Model Pembelajaran sangat menarik dan memiliki kekuatan yang membawa kita pada suatu pengalaman yang unik dikarenakan pembahasannya yang secara detail dan mendalam. Buku ini layaknya seperti panduan bagi setiap guru karena lebih  bersifat implementatit. Setiap topic/Bab diawali langsung dengan contoh studi kasus dalam bentuk teks/video  dengan latar belakang ruang kelas sesungguhnya. Bahkan saat pembahasan konsep strategi dan model pembelajaran (Bab 1, 2, 3)  yang kemudian dengan melalui studi kasus tersebut kita dituntun mengenali strategi dan model pembelajaran.

Pembahasan Bab 4 – Bab 10 tentang model pembelajaran dikupas secara mendetail dan langsung disertai contoh studi kasus baik secara teks maupun secara audio visual (video) yang dapat diakses di www.myeducationlab.com . Studi kasus berbentuk teks dibuat berdasarkan  videonya.  Dan inilah keunggulan buku ini. Bahkan penulis telah mengklain bahwa hal ini tidak akan kita jumpai di buku lain. Setiap langkah-langkah atau  fase pembelajaran secara konkrit bisa diamati dan dicermati melalui lakon guru dan para siswa yang ditampilkan pada studi kasus dunia nyata di ruang kelas.

Mulai Bab 4 sampai bab 10, penulis membahas tentang model pembelajaran. Dalam setiap bab tersebut dibahas secara terperinci dan konsisten tentang model yang diawali dengan tujuan pembelajaran yang terkandung dalam setiap model, bagaimana cara guru merencanakan pembelajaran model setiap model, bagaimana cara penerapan setiap model di kelas, bagaimana cara guru melakukan adaptasi setiap model dalam lingkungan yang berbeda, bagaimana cara guru melakukan penilaian saat setiap model digunakan.

Kedalaman pembahasan setiap bab sangat dalam dan menyeluruh serta secar proporsional karena tidak ada  bab yang dibahas lebih banyak atau sedikit. Semua sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Pembahasan setiap  konsep-konsep ditunjang oleh hasil penelitian atau dari artikel-artikel menyebabkan konsep yang dikemukakan bukan sekedar hasil pemikiran/dugaan penulis saja.

Jenis huruf yang digunakan menarik dan sederhana sehingga pada saat dibaca mata tidak akan cepat lelah. Menarik karena terdapat variasi huruf diantara topic-topik yang berbeda. Misalnya studi kasus dicetak dengan huruf lberbeda. Demikian pula table disajikan dengan latar belakang gelap. Pada penggunaan besar kecilnya huruf,  judul dan sub judul ukuran huruf lebih besar dan informasi yang penting menurut penulis dicetak miring.

Gaya bahasa cara penulis sangat komunikatif. Penulis menyajikan kalimat-kalimat yang mudah kita mengerti dikarenakan bahasanya ringan tidak menggunakan kosa kata yang rumit. Ketika kita membaca maka seolah-olah kita  mengadakan percakapan dengan penulis secara langsung. Pada saat pembahasan tentang konsep, maka penulis akan mengajak kita membahasnya bersama.

Contoh pada halaman  6. Penulis membahas Subbab yaitu Strategi dan Model bagi guru. “Istilah strategi, strategi mengajar, pendekatan mengajar, dan model mengajar  kadang digunakan dalam artian yang sama. Kami akan lebih tajam dalam defenisi kami di buku ini dan akan berfokus pada strategi dan model. Mari kita tengok konsep-konsep itu.”

Namun pada saat  penulis akan menuntun kita maka akan kita jumpai kalimat-kalimat seperti pada halaman 33. “ Guru membuat jumlah keputusannya yang mencengangkan-suatu penelitian   tonggak yang menunjukkan sebanyak 800 keputusan per hari (Jackson, 1968). Dan tidak ada yang membantu Anda membuat keputusan-keputusan itu; sejatinya Anda benar-benar sendirian. Akan tetapi, saat Anda meraih pengetahuan dan pengalaman, Anda belajar untuk membuat keputusan-keputusan ini secara rutin dan efisien (bernier, 1994, 2000).”

Apresiasi kepada penerbit Indeks yang diwaktu yang tepat (terjadi perubahan Kurikulum) telah  menerbitkan buku ini dan khusus kepada penerjemah dengan kemampuannya berhasil membawa buku ini dalam bingkai Bahasa Indonesia yang mudah dimengerti dikarenakan penyusunan kalimatnya sederhana sesuai dengan kalimat Bahasa Indonesia.

Buku ini sangat cocok  sebagai panduan bagi mahasiswa yang belajar di jurusan pendidikan, dikalangan profesi guru,dan dosen, bahkan bagi kalangan akademisi lainnya. Dengan buku ini kita dapat memahami bahwa sesungguhnya pengetahuan tentang stategi dan model pembelajaran amat menunjang pembelajaran di kelas. Untuk membantu siswa mengalami pengalaman belajar bermakna (meaningfull). Kemudian merancang/merencanakan strategi dan menerapkan model pembelajaran tidaklah sulit dilakukan dan adalah hal yang cukup mengasyikkan.

C.   Kelebihan dan Kelemahan

Kelebihan buku ini diantaranya adalah:

1.      Bahasanya tidak kaku, dan mudah dimengerti,

2.      Pembehasan setiap konsep dilakukan dengan jelas, sistematik, dan runtut

3.      Buku ini merupakan hasil karya ahli pendidikan di Amerika Serikat yang bukan hanya praktisi tetapi adalah pelaku yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan.

4.      Buku ini adalah edisi keenam yang menunjukkan bagaimana dedikasih kedua pengarang untuk menyempurnakannya. Dan hal  spektakuler yang bisa diperoleh adalah  pembaca diantar menyelami dunia kelas sesungguhnya dengan penyajian studi kasus dalam 2 bentuk. Pertama dalam bentuk teks/narasi, dan kedua dalam bentuk video).

5.      Mengajak guru memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran

6.      Setiap model pembelajaran dibahas dari perencanaan sampai pada cara penilaian.

7.      Bahan referens  penulis yang paling banyak adalah hasil kajian dari penelitian. Jadi konsepnya selalu up to date

Adapun kelemahan buku terjemahan ini adalah sebagai berikut:

1.      Terjadi beberapa kali penggunaan kata  bukan pada tempatnya seperti halaman 251:  “Mengadaptasi model temuan terbimbing di dalam lingkungan belajar yang berbeda.” Padahal seharusnya “Mengadaptasi model peraihan konsep di dalam lingkungan belajar yang berbeda”. Demikian pula pada halaman 381; “menerapkan pembelajaran untuk pembelajaran berbasis masalah: penekanan pada pemikiran dan pemahaman” karena yang dibahas adalah modle pembelajaran langsung, maka seharusnya; “menerapkan pembelajaran untuk pembelajaran langsung: penekanan pada pemikiran dan pemahaman”. Selanjutnya pada halaman 408 tertulis “menerapkan pembelajaran pengajaran langsung” yang seharusnya “menerapkan pelajarn model ceramah-diskusi”.

2.      Kesalahan pengetikan masih kita jumpai dibeberapa halaman seperti terjadi pada hal 211 tertulis (Mayer, 202; hal.68)  demikian pula pada halaman 322; (Jonasses; 203), Jika melihat kontennya, maka angka ini dimaksudkan adalah  tahun. Kekeliruan ini hanya bersifat teknis pengetikan.

3.      Pembagian subbab tidak dilengkapi dengan nomor/angka urutan.

4.      Contoh-contoh studi kasus yang disampaikan kebanyakan ruang kelas  pada sekolah dasar.

5.      Sebenarnya ini bukan kekurangan dari buku terjemahan ini tetapi kekurangan hasil terjemahan atau dari penerbit. Karena di dalam daftar isi jelas terdapat lampiran selain glosarium yaitu Umpan Balik Latihan (jawaban atas pertanyaan untuk didiskusikan=menurut pereview) serta daftar pustaka. Namun kedua hal ini tidak dijumpai. Namun meskipun daftar pustaka tidak ditampilkan penerbit, namun kemutakhiran referens penulis dapat dilihat pada kutipan-kutipan yang ditampilkan penulis. Misalnya pada halaman 11, penulis mengambil hasil revisi taksonomi Bloom oleh Anderson & Kratwohl tahun 2001.  Referens penulis yang paling mutakhir adalah tahun 2010

6.      Karena sebagai terjemahan, kita tidak bisa mengakses/mengundu video, materi dari situs yang menjadi pelengkap buku ini, dikarenakan tidak tersedia kode akses diperoleh saat  transaksi pembelian dilakukan. Meskipun dalam Pendahuluan telah dijelaskan. jadi hanya  mahasiswa/guru di Amerika Serikat yang bisa mengaksesnya.





IV.       KESIMPULAN



Dengan buku ini guru dapat memahami  konsep strategi dan model pembelajaran secara komprehensif.  Buku ini sangat tepat  digunakan sebagai referens bagi guru  dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013.

.












 
 










































Minggu, 17 Maret 2013

TES POTENSI AKADEMIK

<p style="line-height: 100%; margin-top: 0; margin-bottom: 0" align="center">
            <a target="_blank" href="http://www.tespotensiakademik.com/?id=asdariah andi">
            <img border="0" src="http://www.tespotensiakademik.com/images/tes-potensi-akademik.gif" width="728" height="90"></a><p><p></p>
             

Sabtu, 10 Desember 2011

KETIKA MENGIKUTI UJIAN


Belajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa. Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah ketika jam pelajaran berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru. Belajar yang baik juga dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa PR / pekerjaan rumah. Belajar yang dilakukan secara terburu-buru akibat dikejar-kejar waktu memiliki dampak yang tidak baik.

Berikut ini adalah tips dan triks yang dapat menjadi masukan berharga dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan atau ujian :
1. Belajar Kelompok
Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.
2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat merugikan kita sendiri.
3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.
4. Disiplin Dalam Belajar
Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai. Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar. Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar. Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika kalah.
5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya
Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman. Selain itu
6. Belajar Dengan Serius dan Tekun
Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.
7. Hindari Belajar Berlebihan
Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.
8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.
Sumber: http://organisasi.org/

Ujian memberikan dasar evaluasi dan penilaian terhadap perkembangan belajar.
Ada beberapa kondisi lingkungan,termasuk sikap dan kondisi yang mempengaruhi dalam melakukan ujian.
Sepuluh tips untuk membantu kamu dalam mengerjakan ujian:
  • Datang dengan persiapan yang matang dan lebih awal.
    Bawalah semua alat tulis yang kamu butuhkan, seperti pensil, pulpen, kalkulator, kamus, jam (tangan), penghapus, tip ex, penggaris, dan lain-lainnya. Perlengkapan ini akan membantumu untuk tetap konsentrasi selama mengerjakan ujian.
  • Tenang dan percaya diri.
    Ingatkan dirimu bahwa kamu sudah siap sedia dan akan mengerjakan ujian dengan baik.
  • Bersantailah tapi waspada.
    Pilihlah kursi atau tempat yang nyaman untuk mengerjakan ujian. Pastikan kamu mendapatkan tempat yang cukup untuk mengerjakannya. Pertahankan posisi duduk tegak.
  • Preview soal-soal ujianmu dulu (bila ujian memiliki waktu tidak terbatas)
    Luangkan 10% dari keseluruhan waktu ujian untuk membaca soal-soal ujian secara mendalam, tandai kata-kata kunci dan putuskan berapa waktu yang diperlukan untuk menjawab masing-masing soal. Rencanakan untuk mengerjakan soal yang mudah dulu, baru soal yang tersulit. Ketika kamu membaca soal-soal, catat juga ide-ide yang muncul yang akan digunakan sebagai jawaban.
  • Jawab soal-soal ujian secara strategis.
    Mulai dengan menjawab pertanyaan mudah yang kamu ketahui, kemudian dengan soal-soal yang memiliki nilai tertinggi. Pertanyaan terakhir yang seharusnya kamu kerjakan adalah:
    • soal paling sulit
    • yang membutuhkan waktu lama untuk menulis jawabannya
    • memiliki nilai terkecil
  • Ketika mengerjakan soal-soal pilihan ganda, ketahuilah jawaban yang harus dipilih/ditebak.
    Mula-mulai, abaikan jawaban yang kamu tahu salah. Tebaklah selalu suatu pilihan jawaban ketika tidak ada hukuman pengurangan nilai, atau ketika tidak ada pilihan jawaban yang dapat kamu abaikan. Jangan menebak suatu pilihan jawaban ketika kamu tidak mengetahui secara pasti dan ketika hukuman pengurangan nilai digunakan. Karena pilihan pertama akan jawabanmu biasanya benar, jangan menggantinya kecuali bila kamu yakin akan koreksi yang kamu lakukan.
  • Ketika mengerjakan soal ujian esai, pikirkan dulu jawabannya sebelum menulis.
    Buat kerangka jawaban singkat untuk esai dengan mencatat dulu beberapa ide yang ingin kamu tulis. Kemudian nomori ide-ide tersebut untuk mengurutkan mana yang hendak kamu diskusikan dulu.
  • Ketika mengerjakan soal ujian esai, jawab langsung poin utamanya.
    Tulis kalimat pokokmu pada kalimat pertama. Gunakan paragraf pertama sebagai overview esaimu. Gunakan paragraf-paragraf selanjutnya untuk mendiskusikan poin-poin utama secara mendetil. Dukung poinmu dengan informasi spesifik, contoh, atau kutipan dari bacaan atau catatanmu.
  • Sisihkan 10% waktumu untuk memeriksa ulang jawabanmu.
    Periksa jawabanmu; hindari keinginan untuk segera meninggalkan kelas segera setelah kamu menjawab semua soal-soal ujian. Periksa lagi bahwa kamu telah menyelesaikan semua pertanyaan. Baca ulang jawabanmu untuk memeriksa ejaan, struktur bahasa dan tanda baca. Untuk jawaban matematika, periksa bila ada kecerobohan (misalnya salah meletakkan desimal). Bandingkan jawaban matematikamu yang sebenarnya dengan penghitungan ringkas.
  • Analisa hasil ujianmu.
    Setiap ujian dapat membantumu dalam mempersiapkan diri untuk ujian selanjutnya. Putuskan strategi mana yang sesuai denganmu. Tentukan strategi mana yang tidak berhasil dan ubahlah. Gunakan kertas ujian sebelumnya ketika belajar untuk ujian akhir. (www.studygs.net/indon/tsttak)

RAYAP


Kepustakaan mengenai rayap sudah ada sejak akhir abad ke-19, tetapi terutama berkembang selama abad ke-20. Di antara peneliti dan penulis penting yang memberikan keterangan menyeluruh adalah : Kofoid (1946) dan Krishna dan Weesner  (1970). Masyarakat umum juga sudah memaklumi bahwa rayap adalah serangga yang merugikan karena merusak (makan) kayu. Ini tergambar dalam pepata lama : "bak kayu dimakan rayap" yang mengungkapkan kehancuran, kelemahan atau deteriorasi  -- atau -- "anai-anai makan di bawah" -- mengungkapkan proses kerusakan yang tak tampak atau tersembunyi. Kedua ungkapan ini diambil dari aspek-aspek biologi dan perilaku rayap yaitu: rayap makan kayu dan hidupnya (habitat dan proses makannya) tersembunyi (kriptobiotik ).
Di seluruh dunia jenis-jenis rayap yang telah dikenal (dideskripsikan dan diberi nama) ada sekitar 2000 spesies (dari padanya sekitar 120 spesies merupakan hama), sedangkan di negara kita dari kurang lebih 200 spesies yang dikenal baru sekitar 20 spesies yang diketahui berperan sebagai hama perusak kayu serta hama hutan/pertanian.
Apa yang dikemukakan selanjutnya, belum menggambarkan keseluruhan peri kehidupan dan perilaku rayap, karena untuk menulisnya secara memadai mungkin diperlukan dua jilid buku yang tebalnya masing-masing sekitar 600 halaman, sebagaimana suntingan Krishna dan Weesner. Perilaku rayap sebagai serangga sosial saja jika akan dijelaskan secara menyeluruh memerlukan pembahasan yang panjang lebar dari berbagai segi seperti perilaku makan, membuat sarang dan liang kembara, penyerangan, komunikasi, peran feromon dalam perkembangan (ontogenesis) dan aspek-aspek perilaku lainnya yang dalam banyak hal agak berbeda dari serangga-serangga sosial lainnya. Derajat kemiripan dalam bentuk dan perilaku di antara jenis-jenis rayap juga menimbulkan banyak masalah dalam taksonomi rayap. Keadaan ini menyebabkan beberapa kasus penamaan ganda, karena tak jarang terjadi sejenis rayap yang telah didekripsi seorang pengarang  ternyata spesies yang persangkutan telah diberi nama sebelumnya oleh pengarang lain. Dalam banyak hal, para pengarang/pakar taksonomi mengandalkan pada ukuran badan yang ternyata manfaatnya sangat terbatas, demikian pula jumlah ruas antena (misalnya: Cryptotermes javanicus  Kemner, C. buiterzorgi Kalshoven dan C. cynocephalus Light ).  Oleh karenanya maka bahasan hanya mencakup garis-garis besarnya saja. Untuk mengetahui lebih banyak dan lebih luas pembaca memerlukan kepustakaan yang dirujuk dalam tulisan ini.
Pengenalan: semut  vs. rayap
Dapat dikatakan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal jenis-jenis serangga yang umum kita sebut rayap. Sebutan lain yang juga umum adalah semut putih. Di Sumatera digunakan istilah anai-anai di Jawa rangas, sedangkan beberapa jenis rayap di daerah Jawa Barat disebut rinyuh, sumpiyuh. Bergantung jenisnya, panjang tubuh rayap berkisar di antara 4 - 11 mm, dan umumnya individu-individu rayap yang tak bersayap berwarna keputih-putihan. Dari sini muncul nama “semut putih”.
Di antara jenis-jenis rayap banyak yang mirip satu sama lain sehingga bagi mereka yang belum terlatih, agak sulit membedakannya, kecuali beberapa jenis yang umum seperti rayap kayu kering (Cryptotermes) yang menghuni dan makan kayu kering, dan rayap subteran (seperti Macrotermes) yang sarang koloninya umumnya terdapat dalam tanah lembab, dengan ukuran tubuh relatif besar.
Penampilan rayap memang mirip semut. Tetapi perbedaannya cukup banyak, bahkan semut merupakan salah satu musuh utama dari rayap. Dari segi sistematika/filogenetika semut mendekati golongan lebah, sehingga kedua serangga ini dicakup dalam Ordo Hymenoptera  (bersayap selaput).
 
Gambar 2:  Semut (kiri) dan prajurit rayap (kanan). (Arsip PSIH IPB).
 Jika kita mengamati seekor semut atau seekor lebah, secara morfologik tampak batas yang jelas antara bagian "dada" (toraks) dan "perut" (abdomen), bahkan pada beberapa jenis lebah batas ini demikian mencolok sehingga menggenting (dengan pinggang yang sangat kecil). Pada jenis-jenis rayap, batas antara toraks dan abdomen kurang jelas, atau secara awam kita katakan "rayap tidak memiliki pinggang yang ramping". Individu bersayap yang lazim disebut laron (atau sulung, alata, alates ), memiliki sepasang sayap yang dalam keadaan diam cara melipatnya memanjang lurus ke belakang, seperti halnya jenis-jenis belalang dan lipas  berbeda dengan Hymenoptera yang terlipat dalam beberapa simpul, sebelum memanjang ke belakang. Bedasarkan tekstur dan struktur sayap maka rayap digolongkan dalam satu ordo tersendiri yaitu Isoptera (bersayap sama).
Dari perilaku hidupnya, perbedaan utama antara rayap dengan semut adalah, semut mencari makan lebih "terbuka", sedangkan rayap selalu "tertutup", menutup jalur-jalur kembaranya dengan bahan-bahan tanah. Perkembangan hidup rayap adalah melalui metamorfosa hemimetabola , yaitu secara bertahap, yang secara teori melalui stadium (tahap pertum­buhan) telur, nimfa dan dewasa. Walaupun stadium dewasa pada serangga umumnya terdiri atas individu-individu bersayap (laron), karena sifat polimorfismenya maka di samping bentuk laron yang bersayap, stadium dewasa rayap mencakup juga kasta pekerja yang bentuknya seperti nimfa yang berwarna keputih-putihan, dan kasta prajurit yang berbentuk khusus dan berwarna lebih kecoklatan. Sedangkan pada semut perkembangannya adalah holometabola, yaitu melalui tahap-tahap pertumbuhan telur, larva, nimfa dan dewasa (alates dan pekerja yang tak bersayap).
Perbedaan lain antara rayap dan semut masih sangat banyak tapi kita tidak akan membahasnya di sini. Yang pasti, tidak seperti rayap yang memerlukan kayu (selulosa ) sebagai makanan pokok, semut makanan pokoknya bukan kayu, tetapi macam-macam, dari serat sampai gula.
Sebaran dan makanan
Rayap pada dasarnya adalah serangga daerah tropika dan subtropika. Namun sebarannya kini cenderung meluas ke daerah sedang (temperate ) dengan batas-batas 50o LU dan LS. Di daerah tropika rayap ditemukan mulai dari pantai sampai ketinggian 3000 m di atas permukaan laut. Makanan utamanya adalah kayu atau bahan yang terutama terdiri atas selulosa. Dari perilaku makan yang demikian kita menarik kesimpulan bahwa rayap termasuk golongan makhluk hidup perombak bahan mati yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan dalam ekosistem kita. Mereka merupakan konsumen primer dalam rantai makanan yang berperan dalam kelangsungan siklus beberapa unsur penting seperti karbon dan nitrogen. Tapi masalahnya adalah manusia juga merupakan konsumen primer yang memerlukan hasil-hasil tanaman bukan saja untuk makanannya tetapi juga untuk membuat rumah dan bangunan-bangunan lain yang diperlukannya. Di sinilah letak permasalahannya, sehingga manusia bersaing dengan rayap. Semula agak mengherankan para pakar bahwa rayap mampu makan (menyerap) selulosa karena manusia sendiri tidak mampu mencernakan selulosa (bagian berkayu dari sayuran yang kita makan, akan dikeluarkan lagi !), sedangkan rayap mampu melumatkan dan menyerapnya sehingga sebagian besar ekskremen hanya tinggal lignin saja. Keadaan menjadi jelas setelah ditemukan berbagai protozoa flagellata  dalam usus bagian belakang dari berbagai jenis rayap (terutama rayap tingkat rendah: Mastotermitidae, Kalotermitidae dan Rhinotermitidae), yang ternyata berperan sebagi simbion untuk melumatkan selulosa sehingga rayap mampu mencernakan dan menyerap selulosa. Bagi yang tak memiliki protozoa seperti famili Termitidae, bukan protozoa  yang berperan tetapi bakteria -- dan bahkan pada beberapa jenis rayap seperti Macrotermes , Odontotermes dan Microtermes memerlukan bantuan jamur perombak kayu yang dipelihara di "kebun jamur" dalam sarangnya.
        Perilaku makan
Semua rayap makan kayu dan bahan berselulosa, tetapi perilaku makan (feeding behavior ) jenis-jenis rayap bermacam-macam. Hampir semua jenis kayu potensial untuk dimakan rayap.  Memang ada yang relatif awet seperti bagian teras dari kayu jati tetapi kayu jati kini semakin langka. Untuk mencapai kayu bahan bangunan yang terpasang rayap dapat "keluar" dari sarangnya melalui terowongan-terowongan atau liang-liang kembara yang dibuatnya. Bagi rayap subteran (bersarang dalam tanah tetapi dapat mencari makan sampai jauh di atas tanah), keadaan lembab mutlak diperlukan. Hal ini menerangkan mengapa kadang-kadang dalam satu malam saja rayap Macrotermes  dan Odontoterme s telah mampu menginvasi lemari buku di rumah atau di kantor jika fondasi bangunan tidak dilindungi. Sebaliknya, rayap kayu kering (Cryptotermes) tidak memerlukan air (lembab) dan tidak berhubungan dengan tanah. Juga tidak membentuk terowongan-terowongan panjang untuk menyerang obyeknya. Mereka bersarang dalam kayu, makan kayu dan jika perlu menghabiskannya sehingga hanya lapisan luar kayu yang tersisa, dan jika di tekan dengan jari serupa menekan kotak kertas saja.  Ada pula rayap yang makan kayu yang masih hidup dan bersarang di dahan atau batang pohon, seperti
Neotermes tectonae yang menimbulkan kerusakan (pembengkakan atau gembol) yang dapat menyebabkan kematian pohon jati. Penggolongan menurut habitat atau perilaku bersarang.
Berdasarkan lokasi sarang utama atau tempat tinggalnya, rayap perusak kayu dapat digolongkan dalam tipe-tipe berikut :
1.      Rayap pohon, yaitu jenis-jenis rayap yang menyerang pohon yang masih hidup, bersarang dalam pohon dan tak berhubungan dengan tanah. Contoh yang khas dari rayap ini adalah Neotermes tectonae (famili Kalotermitidae),  hama pohon jati.
2.    Rayap kayu lembab, menyerang kayu mati dan lembab, bersarang dalam kayu, tak berhubungan dengan tanah. Contoh : Jenis-jenis rayap dari genus Glyptotermes  (Glyptotermes spp., famili Kalotermitidae).
3.    Rayap kayu kering, seperti Cryptotermes spp. (famili Kalo­termitidae), hidup dalam kayu mati yang telah kering. Hama ini umum terdapat di rumah-rumah dan perabot-perabot seperti meja, kursi dsb. Tanda serangannya adalah terdapatnya butir-butir ekskremen kecil berwarna kecoklatan yang sering berjatuhan di lantai atau di sekitar kayu yang diserang. Rayap ini juga tidak berhubungan dengan tanah, karena habitatnya kering.
4.    Rayap subteran, yang umumnya hidup di dalam tanah yang mengandung banyak bahan kayu yang telah mati atau membusuk, tunggak pohon baik yang telah mati maupun masih hidup. Di Indonesia rayap subteran yang paling banyak merusak adalah jenis-jenis dari famili Rhinotermitidae. Terutama dari genus Coptoterme s (Coptotermes spp.) dan Schedorhinotermes. Perilaku rayap ini mirip rayap tanah seperti Macr­otermes namun perbedaan utama adalah kemampuan Coptotermes untuk bersarang di dalam kayu yang diserangnya, walaupun tidak ada hubungan dengan tanah, asal saja sarang tersebut sekali-sekali memperoleh lembab, misalnya tetesan air hujan dari atap bangunan yang bocor. Coptotermes pernah diamati menyerang bagian-bagian kayu dari kapal minyak yang melayani pelayaran Palembang-Jakarta. Coptotermes curvignathus Holmgren sering kali diamati menyerang pohon Pinus merkusii dan banyak meyebabkan kerugian pada bangunan.
5.    Rayap tanah. Jenis-jenis rayap tanah di Indonesia adalah dari famili Termitidae. Mereka bersarang dalam tanah terutama dekat pada bahan organik yang mengandung selulosa seperti kayu, serasah dan humus. Contoh-contoh Termitidae yang paling umum menyerang bangunan adalah Macrotermes spp. (terutama M. gilvus) Odontotermes spp. dan Microtermes spp. Jenis-jenis rayap ini sangat ganas, dapat menyerang obyek-obyek berjarak sampai 200 meter dari sarangnya. Untuk mencapai kayu sasarannya mereka bahkan dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa cm, dengan bantuan enzim yang dikeluarkan dari mulutnya. Macrotermes dan Odontotermes merupakan rayap subteran yang sangat umum menyerang bangunan di Jakarta dan sekitarnya.
        Taksonomi rayap selayang pandang
Taksonomi atau penggolongan jenis-jenis rayap merupakan salah satu misteri dunia insekta karena tingginya tingkat kemiripan antar jenis rayap dalam masing-masing famili. Kiranya kita tak perlu sangat memusingkan jenis-jenis (spesies) rayap ini. Hal yang penting adalah dapat mengenal tipe-tipe seperti telah disebut di muka. Pada umumnya rayap yang terdapat dalam satu kategori memiliki kemiripan dalam hampir semua segi perilakunya, sehingga metoda pengendalianyapun dapat disamakan.
Dapat dikatakan bahwa terdapat tiga famili rayap perusak kayu (yang dianggap sebagai hama), yaitu famili Kalotermitidae, Rhinotermitidae dan Termitidae. Kalotermitidae diwakili oleh Neotermes tectonae (hama pohon jati) dan Cryptotermes spp. (rayap kayu kering); Rhinotermitidae oleh Coptotermes spp dan Schedorhinotermes, sedangkan Termitidae oleh Macrotermes spp., Odontotermes spp. dan Microtermes spp.). Masih banyak jenis-jenis rayap yang juga penting tetapi agak jarang dijumpai menyerang bangunan. Misalnya jenis-jenis Nasutitermes (famili Termitidae), yang pada dahi prajuritnya terdapat "tusuk" (seperti hidung: nasus, nasute), dan mampu melumpuhkan lawannya bukan dengan menusuknya tetapi meyemprotkan cairan pelumpuh berwarna putih, melalui saluran dalam "tusuk"nya.
 
 
 
 
 
 
 
 
   

[]
[]
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 3. Berturut-turut dari kiri ke kanan, mulai dari atas: prajurit Macrotermes gilvus, prajurit Microtermes sp., prajurit Nasutitermes sp, prajurit Cryptotermes cynocephalus  dan ratu Coptotermes curvignathus. (Arsip PSIH IPB).
 
Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh cara mendeterminasi jenis rayap perusak kayu, dapat digunakan kunci yang disusun penulis (lihat kepustakaan nomor  7 pada akhir tulisan ini).
        Koloni rayap -- masyarakat kriptobiotik
Jika kita menilik kehidupan rayap, kita tak akan menjumpai seekor rayap yang mengembara sendirian seperti halnya kupu-kupu yang terbang solo  atau kumbang yang makan sendirian (soliter). Sebagai serangga sosial rayap hidup dalam masyarakat  yang disebut koloni. Jika kita hendak menguji   keampuhan obat (insektida) terhadap beberapa ekor ayap dari kasta yang sama (misalnya kasta pekerja) yang dipisahkan dari koloninya, maka hasilnya akan sia-sia. Karena tanpa diberi racunpun mereka akan mati. Mengeluarkan individu rayap dari koloninya, sama saja dengan membunuhnya. Mereka hanya bisa hidup jika (dan hanya jika) mereka berada dalam masyarakatnya (koloninya). Mengapa demikian ? Karena di dalam koloninya terdapat bahan-bahan dan proses-proses yang dapat menjamin kelanjutan hidupnya. Ibarat seorang penderita penyakit yang seumur hidupnya mutlak memerlukan sejenis obat yang selalu ditelannya pada saat-saat tertentu, dan jika diumpamakan bahwa obat itu tak dapat dibawanya ke mana-mana, hanya dapat disimpan di rumahnya, berarti ia tak dapat meninggalkan rumahnya. Ia dapat hidup normal jika rumahnya ia perpanjang dengan menambah lorong-lorong sempit, misalnya ke tempat kerjanya, ke sekolah, ke pasar dsb. Dan lorong-lorong sempit yang tertutup ini merupakan bagian dari rumahnya, di mana ia dapat memperoleh obat demi kelangsungan hidupnya. Demikianlah halnya dengan kehidupan rayap. Hal ini dapat kita amati pada kehidupan rayap subteran. Ia hanya dapat mencapai makanannya (bangunan atau kayu) dengan menambah-nambah panjang "rumahnya" dengan membuat terowongan-terowongan kembara, yaitu jalur-jalur sempit yang berasal dari pusat sarang ke arah kembara di mana makanannya berada, yang hanya dapat dilalui sekaligus oleh sekitar 3 - 4 ekor rayap. Terowongan kembara ini ditutupnya dengan bahan-bahan tanah sehingga pada galibnya liang-liang kembara tetap merupakan bagian dari sarang koloninya. Dengan adanya liang-liang tertutup ini maka praktis seluruh ruangan dari sarang rayap termasuk liang-liang kembara merupakan lingkungan yang sangat lembab yang menjamin kehidupan rayap tanah atau rayap subteran.Dalam kaitan dengan kehidupan masyarakat rayap, terdapat beberapa istilah kunci yang perlu diungkapkan, yaitu : polimorfi, feromon,  trofalaksis, dan homeostatis.
 

Gambar 4.  Ratu rayap dikelilingi pekerja dan prajurit (kiri) dan individu-individu rayap Coptotermes yang bergerombol (kanan). (Arsip PSIH IPB.  
  []


 
 Polimorfi -- masyarakat "komune" dalam kasta-kasta
Sebagian masyarakat juga sudah mengetahui bahwa dalam koloni setiap jenis rayap, terdapat beberapa kasta individu yang wujudnya berbeda, yaitu:
1. Kasta reproduktif  terdiri atas individu-individu seksual yaitu betina (yang abdomennya biasanya sangat membesar) yang tugasnya bertelur dan jantan (raja) yang tugasnya membuahi betina. Raja sebenarnya  tak sepenting ratu jika dibandingkan dengan lamanya ia bertugas karena dengan sekali kawin, betina dapat menghasikan ribuan telur; lagipula sperma dapat disimpan oleh betina dalam kantong khusus untuk itu, sehingga mungkin sekali tak diperlukan kopulasi berulang-ulang. Jika koloni rayap masih relatif muda biasanya kasta reproduktif berukuran besar sehingga disebut ratu. Biasanya ratu dan raja adalah individu pertama pendiri koloni, yaitu sepasang laron yang mulai menjalin kehidupan bersama sejak penerbangan alata. Pasangan ini disebut reprodukif primer. Jika mereka mati bukan berarti koloni rayap akan berhenti bertumbuh. Koloni akan membentuk "ratu" atau "raja" baru dari individu lain (biasanya dari kasta pekerja) tetapi ukuran abdomen ratu baru tak akan sangat membesar seperti ratu asli. Ratu dan raja baru ini disebut reproduktif suplementer atau neoten. Jadi, dengan membunuh ratu atau raja kita tak perlu sesumbar bahwa koloni rayap akan punah. Bahkan dengan matinya ratu, diduga dapat terbentuk berpuluh-puluh neoten yang menggantikan tugasnya untuk bertelur. Dengan adanya banyak neoten maka jika terjadi bencana yang mengakibatkan sarang rayap terpecah-pecah, maka setiap pecahan sarang dapat membentuk koloni baru.
2.  Kasta prajurit . Kasta ini ditandai dengan bentuk tubuh yang kekar karena penebalan (sklerotisasi) kulitnya agar mampu melawan musuh dalam rangka tugasnya mempertahankan kelangsungan hidup koloninya. Mereka berjalan hilir mudik di antara para pekerja yang sibuk mencari dan mengangkut makanan. Setiap ada gangguan dapat diteruskan melalui "suara" tertentu sehingga prajurit-prajurit bergegas menuju ke sumber gangguan dan berusaha mengatasinya. Jika terowongan kembara diganggu sehingga terbuka tidak jarang kita saksikan pekerja-pekerja diserang oleh semut sedangkan para prajurit sibuk bertempur melawan semut-semut, walaupun mereka umumnya kalah karena semut lebih lincah bergerak dan menyerang. Tapi karena prajurit rayap biasanya dilengkapi dengan mandibel (rahang) yang berbentuk gunting maka sekali mandibel menjepit musuhnya, biasanya gigitan tidak akan terlepas walaupun prajurit rayap akhirnya mati. Mandibel bertipe gunting (yang bentuknya juga bermacam-macam) umum terdapat di antara rayap famili Termitidae, kecuali pada Nasutitermes ukuran mandibelnya tidak mencolok tetapi memiliki nasut  (yang berarti hidung, dan penampilannya seperti "tusuk") sebagai alat penyemprot racun bagi musuhnya. Prajurit Cryptotermes memiliki kepala yang berbentuk kepala bulldogtugasnya hanya menyumbat semua lobang dalam sarang yang potensial dapat dimasuki musuh. Semua musuh yang mencapai lobang masuk sulit untuk luput dari gigitan mandibelnya. Pada beberapa jenis rayap dari famili Termitidae seperti Macrotermes, Odontotermes, Microtermes dan  Hospitalitermes terdapat prajurit dimorf (dua bentuk) yaitu prajurit besar (p. makro) dan prajurit kecil (p. mikro)
3. Kasta pekerja.  Kasta ini membentuk sebagian besar koloni rayap. Tidak kurang dari 80 persen populasi dalam koloni merupakan individu-individu pekerja. Tugasnya melulu hanya bekerja tanpa berhenti hilir mudik di dalam liang-liang kembara dalam rangka mencari makanan dan mengangkutnya ke sarang, membuat terowongan-terowongan, menyuapi dan membersihkan reproduktif dan prajurit, membersihkan telur-telur, dan -- membunuh serta memakan rayap-rayap yang tidak produktif lagi (karena sakit, sudah tua atau juga mungkin karena malas), baik reproduktif, prajurit maupun kasta pekerja sendiri. Dari kenyataan ini maka para pakar rayap sejak abad ke-19 telah mempostulatkan bahwa sebenarnya kasta pekerjalah yang menjadi "raja", yang memerintah dan mengatur semua tatanan dan aturan dalam sarang rayap. Sifat kanibal terutama menonjol pada keadaan yang sulit misalnya kekurangan air dan makanan, sehingga hanya individu yang kuat saja yang dipertahankan. Kanibalisme berfungsi untuk mempertahankan prinsip efisiensi dan konservasi energi, dan berperan dalam pengaturan homeostatika (keseimbangan kehidupan) koloni rayap
Feromon penanda jejak dan pendeteksi makanan. Telah merupakan suatu diktum bahwa rayap (pekerja dan prajurit) itu  buta. Mereka jalan beriiringan atau dapat menemukan obyek makanan bukan karena mereka mampu melihat atau mencium bau melalui "hidung". Kemampuan mende­eksi dimungkinkan karena mereka dapat menerima dan menafsirkan setiap bau yang esensial bagi kehidupannya melalui lobang-lobang tertentu yang terdapat pada rambut-rambut yang tumbuh di antenanya. Bau yang dapat dideteksi rayap berhubungan dengan sifat kimiawi feromonnya sendiri. Feromon adalah hormon yang dikeluarkan dari kelenjar endokrin., tetapi berbeda dengan hormon,  feromon menyebar ke luar tubuh dan empengaruhi individu lain yang sejenis. Untuk dapat mendeteksi jalur yang dijelajahinya, individu rayap yang berada didepan mengeluarkan feromon penanda jejak (trail following pheromone) yang keluar dari kelenjar sternum (sternal gland  di bagian bawah, belakang abdomen), yang dapat dideteksi oleh rayap yang berada di belakangnya. Sifat kimiawi feromon ini sangat erat hubungannya dengan bau makannannya sehingga rayap mampu mendeteksi obyek makanannya.
Feromon dasar: pengatur perkembangan
Di samping feromon penanda jejak, para pakar etologi (perilaku) rayap juga menganggap bahwa pengaturan koloni berada di bawah kendali feromon dasar (primer pheromones ). Misalnya, terhambatnya pertumbuhan/ embentukan neoten disebabkan oleh adanya semacam feromon dasar yang dikeluarkan oleh ratu, yang berfungsi menghambat diferensiasi kelamin. Segera setelah ratu mati, feromon  ini hilang sehingga terbentuk neoten-neoten pengganti ratu. Tetapi kemudian neoten yang telah terbentuk kembali mengeluarkan feromon yang sama sehingga pembentukan neoten yang lebih banyak dapat dihambat. Feromon dasar juga berperan dalam diferensiasi pembentukan kasta pekerja dan kasta prajurit, yang dikeluarkan oleh kasta reproduktif.
Dilihat dari biologinya, koloni rayap sendiri oleh beberapa pakar dianggap sebagai supra-organisma, yaitu koloni itu sendiri dianggap sebagai makhluk hidup, sedangkan individu-individu rayap dalam koloni hanya merupakan bagian-bagian dari anggota badan supra-organisma itu.
Perbandingan banyaknya neoten, prajurit dan pekerja dalan satu koloni biasanya tidak tetap. Koloni yang sedang bertumbuh subur memiliki pekerja yang sangat banyak dengan jumlah prajurit yang tidak banyak (kurang lebih 2 - 4 persen). Koloni yang mengalami banyak gangguan, misalnya karena terdapat banyak semut di sekitarnya akan membentuk lebih banyak prajurit (7 - 10 persen), karena diperlukan untuk mempertahankan sarang.
Trofalaksis: masyarakat rayap yang terintegrasi
Rayap muda yang baru saja ditetaskan dari telur belum memiliki protozoa yang diperlukannya untuk mencernakan selulosa. Demikian pula setiap individu rayap yang baru saja berganti kulit tak memiliki protozoa karena simbion ini telah keluar bersama kulit yang ditanggalkannya (karena kulit usus juga ikut berganti). Individu rayap tersebut diberi "re-infeksi" protozoa oleh para pekerja dengan melalui trofalaksis. Trofalaksis adalah perilaku berkerumun di antara anggota-anggota koloni, dan saling "menjilat" anus dan mulut. Dengan perilaku ini protozoa  dapat ditularkan kepada individu-individu yang memerlukannya. Penyebaran feromon dasar juga diduga terlaksana melalui perilaku trofalaksis .
Strategi pengendalian
Dari uraian di muka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa untuk menghindar atau meminimumkan kemungkinan terjadinya serangan rayap pada bangunan perlu diperhatikan hal-hal berikut.
1. Hindari adanya bahan-bahan kayu seperti sisa-sisa tunggak pohon di sekitar halaman bangunan, yang potensial untuk menjadi sumber infeksi rayap. Demikian pula adanya pohon-pohon tua yang sebagian jaringan pohon maupun akarnya telah mati merupakan sumber makanan rayap dan dapat menjadi lokasi sarang perkembangan koloni rayap.
2. Hindari kontak antara tanah dengan bagian-bagian kayu dari bangunan. Walaupun cara ini tidak mutlak mampu mencegah serangan rayap karena rayap mampu membuat terowongan kembara di atas tembok, lantai dan dinding untuk mencapai obyek kayu makanannya tetapi bagi bangunan sederhana cara ini dapat memperlambat serangan rayap, dan adanya terowongan-terowongan dapat dideteksi.
3. Pergunakan kayu yang awet (seperti bagian teras kayu jati), atau kayu yang telah diawetkan dengan bahan-bahan pengawet anti rayap. Untuk kayu-kayu yang digunakan di bawah atap jenis-jenis garam pengawet seperti garam Wolman dengan retensi yang cukup telah memadai, sedangkan bagi kayu di luar bangunan diperlukan bahan pengawet larut minyak seperti kreosot .
4. Cara yang paling efektif adalah melindungi bangunan dengan cara membuat "benteng yang kuat terhadap rayap" di bagian fondasi dengan cara menyampur bahan fondasi dengan termitisida atau memperlakukan tanah di bawah dan di sekitar fondasi dengan termitisida yang tahan pencucian (persisten) serta memiliki afinitas dengan tanah.
5. Jika bangunan telah terserang, gunakanlah cara-cara pengendalian yang ramah lingkungan, seperti dengan pengumpanan dan pengendalian koloni dengan menggunakan insektisida penekan pertumbuhan kutikel seperti heksaflumuron dsb.
Kepustakaan
Howse, P.E. 1970. Termites: A Study in Social Behaviour. Hutchinson University Library. London. 150 p.
Harris, W.V. 1961. Termites. Their Recognition and Control. Longmans, Green and Co. Ltd., London. 186 p.
Kofoid, C. A. (ed.). 1946. Termites and Termite Control. Univ. of Calif. Press, Berkeley. 795 p.
Krishna, K dan F.M. Weesner (Eds.). 1969/1970. Biology of Termites, Vol. I dan II. Academic Press, New York etc. Vol I 598 p, Vol. II 643 p.
Nandika, Dodi dan B. Tambunan. 1990. Deteriorasi Kayu oleh Faktor Biologis. Fakultas Kehutanan IPB.
Natawiria, Djatnika. 1986. Peranan Rayap dalam Ekosistem Hutan. Prosiding Seminar Nasional Ancaman Terhadap Hutan Tanaman Industri, 20 Desember 1986. FMIPA-UI dan Dephut. p. 168 - 177.
Tarumingkeng, Rudy C. 1971. Biologi dan Pengenalan Rayap Perusak Kayu Indonesia. Lap. L.P.H. No. 138. 28 p.
 Tarumingkeng, Rudy C., H.C. Coppel dan F. Matsumura. 1976. Morphology and Ultrastructure of the Antennal Chemoreceptors of Worker Coptotermes formosanus Shiraki. Cell and Tissue Research (Springer Verlag) 173 : 173 - 178.
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:Ha08NzI5W8sJ:www.rudyct.com/biologi_dan_perilaku_rayap.htm+RAYAP&cd=4&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a


            Rayap (Termite) adalah serangga bertubuh lunak yg umumnya dikenal sebagai semut putih. Namun rayap bukanlah semut (lihat perbedaanya di : http://goo.gl/BzCMh) . Mereka memiliki 3 bagian tubuh utama yaitu, kepala, dada (thorax) & perut (abdomen). Rayap memiliki sistem sosial, dengan raja, ratu, pekerja, dan tentara.

gambar siklus hidup rayap
termite-cycle

Siklus hidup rayap dimulai dari telur lunak berwarna jingga transparant yang selanjutnya akan menetas menjadi larva. Larva kemudian akan tumbuh menjadi rayap muda yang disebut nymph. Ketika beranjak dewasa, rayap muda ini akan memilih peran mereka dalam koloni.

gambar telur rayap
termite_eggs

Peran pertama yang dapat dipilih oleh nymph adalah menjadi rayap pekerja. Rayap pekerja berjumlah paling banyak dalam koloni. Tugas mereka yaitu mencari & menyimpan makanan, merawat induk & larva, membangun & memperbaiki sarang. Kasta ini memiliki kemampuan untuk mencerna selulosa dalam kayu, dimana hasil pencernaan ini akan dimuntahkan & dipersembahkan sebagai makanan induk, prajurit & para larva. Rayap jenis inilah yang dapat merusak bangunan kayu. Jenis rayap paling merusak adalah rayap Formosa karena memiliki koloni sangat besar.

gambar rayap pekerja
rayap pekerja

Peran lainnya adalah menjadi Rayap Tentara yang bertugas menjaga koloni. Rayap jenis ini tidak mampu makan sendiri. Mereka bergantung pada pekerja untuk menyediakan mereka dengan makanan muntahan. Rayap tentara dan pekerja sama2 tidak memiliki mata & biasanya hidup maksimal 2 tahun.

gambar rayap tentara
rayap tentara

Peran terakhir adalah menjadi Rayap Reproduksi (Alates), rayap-rayap ini adalah calon ratu koloni baru nantinya. Bentuk tubuh mereka saat ini masih ramping dan kerennya lagi, dari kerajaan rayap cuma mereka yang punya sayap. Sayap ini diperlukan untuk berpindah tempat untuk membangun koloni baru, 2 pasang sayap dengan ukuran sama akan muncul dari punggung mereka. Karena hal inilah rayap diklasifikasikan dalam ordo Isoptera ( iso = sama dan pteron = sayap). Rayap reproduksi ini sering kita sebut sebagai laron dan muncul sebelum hujan. Bentuk tubuh mereka yang indah untuk golongan rayap (ramping dan bersayap) tidak akan bertahan lama. Sayap mereka sangat rapuh, dan akan segera rontok begitu mereka telah menemukan tempat untuk membangun koloni baru. Jika terpilih menjadi ratu, tubuh laron betina tidak akan ramping lagi dan akan mengalami obesitas, karena tujuan hidupnya hingga ajal adalah bertelur untuk koloni.

gambar laron
termite-alate

Rayap reproduksi terpilih akan menjadi Ratu & Raja dalam koloni. Dimana dalam koloni hanya terdapat 1 raja dan 1 ratu. Ratu rayap yg juga merupakan serangga hidup terpanjang di dunia dapat hidup 50 tahun di bawah kondisi yang tepat.

gambar ratu rayap
queen_termite

Ketika sebuah koloni rayap menjadi terlalu besar, dan ratu tidak dapat bertelur cukup untuk mempertahankan itu, reproduksi seksual oleh rayap reproduksi akan dijalankan untuk meringankan beban ratu. Meskipun reproduksi sekunder bertelur lebih sedikit dari ratu, bisa ada ratusan dari mereka dalam sebuah koloni. Kontribusi mereka untuk kapasitas bertelur koloni dapat menjadi luar biasa dan ketika ratu meninggal mereka dapat mengambil alih total kebutuhan reproduksi.
http://adearisandi.wordpress.com/2011/04/07/kerajaan-rayap/

UNDUR-UNDUR


Hewan yang kita kenal sebagai Undur-undur lantaran suka bergerak mundur dan menggali rumah berbentuk corong ternyata hanya larva. Hewan undur-undur mengalami proses metamorfosis dari telur, larva, kepompong, hingga menjadi Undur-undur dewasa. Saat dewasa Undur-undur mempunyai sayap dan bisa terbang.
Undur-undur adalah nama umum dari berbagai jenis spesies serangga yang terkumpul dalam famili Myrmeleontidae. Hewan Undur-undur ini terdiri lebih dari 2.000 spesies yang hidup tersebar di seluruh dunia, terutama daerah bersuhu hangat.
Nama Undur-undur diberikan lantaran kebiasaan larvanya dalam berjalan mundur saat membuat sarang jebakan. Sedang di beberapa negara Undur-undur disebut sebagai antlion (semut singa) karena kebiasaannya menjebak dan memangsa semut sehingga menjadi ‘singanya para semut’. Nama familinya, Myrmeleontidae merupakan bahasa latin yang berasal dari kata myrmex (semut) dan leon (singa) sehingga nama Myrmeleontidae secara harfiah bisa diartikan “semut singa”. Sedangkan Undur-undur dewasa yang mampu terbang, jarang diperhatikan dan dikenali lantaran merupakan hewan nokturnal tang aktif pada sore dan malam hari.
Larva Undur-undur
Larva Undur-undur
Ciri dan Metamorfosisi Undur-undur. Penampilan Undur-undur dewasa sekilas mirip Capung namun memiliki antena yang panjang. Ukurannya relatif kecil, bervariasi antar satu spesies dengan lainnya dengan panjang tubuhnya antara 4-10 cm. Kemampuan terbang Undur-undur tidak selincah Capung.
Undur-undur (antlion) mengalami proses metamorfosis sempurna mulai dari telur, larva, kepompong, hingga Undur-undur dewasa. Perkembangan Undur-undur dimulai ketika betina meletakkan telurnya di dalam tanah berpasir.
Telur undur-undur akan menetas menjadi larva. Larva inilah yang sering kita lihat yang mempunyai tubuh gempal, pipih, berkaki enam, dan memiliki sepasang taring panjang di kepalanya. Larva Undur-undur membuat jebakan di tanah dengan cara bergerak mundur dan memakai tubuhnya untuk menggali hingga akhirnya membentuk sarang jebakannya yang berbentuk seperti corong.
Makanan larva Undur-undur adalah jenis Arthropoda kecil, terutama semut. Yang unik, larva Undur-undur tidak memiliki anus sehingga sisa metabolisme akan disimpan dan baru dikeluarkan ketika mereka sudah menjadi Undur-undur dewasa.
Setelah menjadi larva, hewan Undur-undur (antlion) akan menjadi kepompong atau pupa. Bentuk kepompong Undur-undur mirip butiran pasir yang terkubur hingga beberapa centimeter di dalam tanah. Setelah sekitar satu bulan, kepompong berubah menjadi Undur-undur dewasa dan mulai tumbuh sayap sehingga mampu terbang.
Undur-undur dewasa mulai terbang untuk mencari pasangan dan melakukan perkawinan. Rata-rata usia Undur-undur dewasa hanya sekitar 20-25 hari saja. Makanan Undur-undur dewasa bervariasi. Sebagian spesies memakan serangga, sedangkan spesies lainnya memakan nektar (sari bunga) dari bunga.
Undur-undur dewasa
Undur-undur dewasa
Undur-undur dewasa yang telah bisa terbang ini akan mencari pasangan untuk melakukan perkawinan. Perkawinan sepasang Undur-undur dilakukan dengan hinggap di pohon. Uniknya, proses kopulasi (senggama) yang dilakukan Undur-undur dengan cara saling melekatkan ujung ekornya mampu berlangsung hingga dua jam. Setelah itu, sang betina akan mencari tempat untuk bertelur.
Konon Undur-undur (larva) mempunyai khasiat untuk menyembuhkan diabetes dan stroke. Sayangnya saya tidak paham bagaimana cara mendapatkan khasiatnya. Juga jika dikaji secara klinis.
Ingat Undur-undur, ingat masa kecil. Saya suka sekali ‘mengail’ Undur-undur dengan cara memasukkan sebatang ijuk ke dalam liang atau rumahnya. Sang Undur-undur akan menggigit ijuk sehingga dengan mudah hewan ini bisa diangkat. Tak tahunya, hewan ini bisa melakukan metamorfosis yang kemudian membuatnya bisa terbang.
Klasifikasi ilmiah. Kerajaan: Animalia; Filum: Arthropoda; Upafilum: Hexapoda; Kelas: Insecta; Upakelas: Pterygota; Infrakelas: Neoptera; Ordo: Neuroptera; Famili: Myrmeleontidae.

Manfaat
Undur-undur/antlion (Myrmeleon formicarius) dipercaya berkhasiat menurunkan kadar gula penderita diabetes. Serangga ini mengandung zat sulfonylurea yang dapat melancarkan kerja pankreas dalam memproduksi insulin. Fungsi insulin adalah sebagai penyeimbang kadar glukosa dalam darah.
Undur-undur adalah kelompok binatang holometabola yaitu serangga yang mengalami metamorfosis sempurna (telur, larva, pupa, dan imago). Berdasarkan ciri sayap dan mulutnya, binatang ini merupakan ordo Neuroptera (serangga bersayap jala).
Telur
Capung betina bisanya akan meletakkan telur mereka pada tanah dengan tekstur pasir halus atau debu. Telur akan menetas dan berkembang menjadi larva. Ditandai dengan adanya sarang berupa galian tanah.

undur undur betina
ovipositing
Larva
Telur capung akan menetas menjadi larva yang kita kenal dengan nama undur-undur atau doodlebug. Undur-undur menghabiskan hampir seluruh hidupnya sebagai larva. Pada tahap ini, undur-undur menggali lubang di pasir halus dan menunggu serangga lain, seperti semut, untuk lewat & jatuh ke dalamnya. Dengan rahangnya yang besar, undur-undur akan menghancurkan tubuh mangsanya hingga cairan tubuhnya keluar dan dihisapnya. Tahap larva berlangsung antara 1 hingga 3 tahun.
larva undur undur
larva
Pupa
Pupa adalah kepompong pada saat undur-undur sudah tidak lagi melakukan kegiatan, pada saat itu juga terjadi penyempurnaan & pembentukan organ. Adanya gumpalan tanah berbentuk bola merupakan ciri undur-undur dalam fase pupa. Proses ini biasanya berlangsung sekitar 3 minggu sampai 1 bulan.
pupa undur undur
cocoon
Imago
Imago adalah fase dewasa atau fase perkembangbiakan. Imago biasanya paling aktif di malam hari dan sering bisa dilihat tergantung terbalik di ranting pohon. Makanan imago sebagai dewasa adalah nektar. Fokus utama dari imago undur-undur adalah reproduksi. Imago ini biasanya hidup antara 1 bulan hingga 45 hari. Banyak orang yang tidak tahu kalau bentuk fase dewasa undur-undur adalah capung. Meskipun demikian bentuk tubuh capung undur-undur dengan capung biasa tidak sama. Selain undur-undur yang bertelur di pasir, dan capung yang bertelur di air, ada juga jenis capung lainnya yang bertelur di daun/ranting pohon.
undur undur dewasa
antlion
perbedaan capung dan undur undur dewasa
dragonfly
Teknik berburu undur-undur
- Ditiup dengan sedotan
Dengan cara ditiup, massa pasir yang lebih ringan akan keluar terbawa tiupan angin. Sedangkan undur-undur dengan massa yang lebih berat akan tertinggal, sehingga mudah ditangkap.
- Disendok dan diayak dengan jaring/ saringan teh.
Setelah disendok, undur-undur yang diperkirakan ada di dalam sendok bersama pasir, dituang ke dalam jaring dan diayak, undur-undur akan kelihatan dan mudah ditangkap.
Referensi dan gambar:

  • id.wikipedia.org/wiki/Undur-undur
  • www.ozanimals.com/Insect/Antlion/Myrmeleontidae%20family/.html
  • commons.wikimedia.org (gambar Undur-undur)